MERAYAKAN AUTISME SOSIAL
Bagi anak-anak zaman digital,
dunia Robinson Crusoe memang tidak masuk akal Karena teknologi komunikasi masa
kini memungkinkan kita tersambung kemana pun setiap saat. (Slamet Syukur, 2005:26)
“New media, era tanpa tapal batas” (baca: media sosial, dunia maya),
manusia berarah ke gelombang teknologi dan informasi. Manusia tercengang dengan
kemampuan teknologi yang meluruhkan territorial (Batas wilayah) dan melampui
waktu. Kegagapan melanda manusia dari heroisme teknologi, manusia pun bunuh
diri kelas, dari kelas cerdas menuju kelas kebodohan. Manusia menempatkan
kediriannya di kelas inferior dengan menyematkan kata “smart” pada “handphone”.
Jadinya, Smartphone (telepon pintar)
atau gadget. Smartphone ini terdiri dari berbagai merek dan fitur yang canggih,
seperti Blackberry, Samsung, Apple, Oppo, Sony, Nokia dan lain-lain. Boleh dikata, generasi sekarang adalah
generasi smartphone, di mana anak
mudah merasa canggung dalam bergaul tanpa kepemilikan smartphone. Di mana-mana ditemukan generasi yang tuli, genarasi
yang tunduk, generasi senyum sendiri dan generasi sibuk sendiri.
Dunia ditekuk dengan
gesekan, tangan menari dilayar datar dengan megaduk informasi, hoax (kabar bohong) dirayakan tiap hari,
menebar kabar dengan kekhawatiran dan ketakutan berlebih. Padahal, realitasnya tak jua ada.
Generasi ini betul betul gamang. Benar dianggap salah, fiktif dianggap nyata.
Sebagian besar anak mudah dihabiskan di dunia maya dengan menggunakan Smartphone.
Berdasarkan data yang
dikeluarkan UNICEF (United Nations International Children’s
Emeregency Fund) 80 % anak Indonesia menggunakan
Internet. Internet diakses melalui computer (69%), Laptop (32%) dan Smartphone (52%). Sementara, Penggunaan Smartphone terus beranjak dua kali lipat
antara antara 2012-2013 atau bertambah sekitar 24% (Sumber: unicef.org). Dari Riset
Indonesia Smartphone Consumer Insight
merilis data pada tahun 2013, Smartphone digunakan untuk Chating (90%), Pencarian (71%), jejaring sosial (64%), dan Blogging forum (41%). Sementara, waktu
yang dihabiskan dalam dunia penggunaan internet Komputer 5-6 jam sehari.
sedangkan, penggunaan Smartphone lebih
dari 2 jam sehari. Ketika melihat data ini, sebagian besar waktu, tenaga dan
pikiran dihabiskan di Internet (Dunia Maya).
Lain pula, anak
berumuran empat tahun ke atas keranjingan bermain Smartphone dengan main game, orang tua mereka sudah lupa mengajari
mereka bermain tanah dan bergumul dengan teman sebayanya. Jangankan anak-anak yang berubah, tata laku
orang dewasa pun sibuk mengamini kecanggihan teknologi. Apa jadinya generasi
yang akan datang!
Berharap-haraplah
cemas?
“berubahnya mo !”
ungkapan sarkastik anak Makassar ditujukan kepada seseorang yang mengalami
perubahan perilaku, entah itu efek dari kepemilikan Smartphone dan perilaku yang tak lazim. Smartphone betul-betul mengakuisisi (memperoleh) keceriaan dengan
menepikan kebahagiaan yang nyata. Bayangkan, ketika kita berada dalam satu kamar
sekitar tujuh orang, kesemuannya menggunakan Smartphone, dalam waktu yang bersamaan semuanya tertawa, tapi objek
tertawaan yang berbeda. Satu tertawa karena ulah temannya tergila-gila dengan
batu mulia, ada pula sibuk bergurau dengan pacarnya, ada pula sibuk dengan game
online-nya dan yang lain sibuk dengan
dunianya masing-masing. Ketujuh orang tersebut hanya sesekali bertanya, lalu
senyap dan kembali ke gadget-nya
masing-masing. Apa yang terjadi ketika tujuh orang tersebut tidak memiliki gadget? tentunya mereka akan bencengkrama
satu sama lain. Bisa jadi, mereka menghasilkan gagasan yang besar.
Apa jadinya, ketika Anda
bertanya kepada orang yang sedang menyumpal telinganya dengan headset. Dia hanya menganga lalu membisu
Dia pun berlalu menggeleng-geleng kepalanya sesuai irama musik. Pertanyaan pun
tak terjawab, semua berlalu begitu saja walau mata beradu pandangan. Anda pun
harus menepi untuk memperoleh jawaban, tapi jangan khawatir ada google maps, aplikasi ini akan
mengantarkan Anda ke tempat tujuan. Hiraukan saja yang lain, Anda tak sendirian
(baca: Smartphone).
Bagaimana pula,
ketika Anda bertamu, menemukan keluarga sedang sibuk dengan handphone-nya masing-masing. Mereka
duduk di ruang tamu dengan keluarga yang lengkap, bapak, ibu dan memiliki dua
orang anak. Sang Ayah sibuk menelepon rekan bisnisnya, sementara ibu sedang
sibuk sms-an dengan teman pengajiannya, anaknya yang perempuan cemberut
melototi layar ipad-nya dan anak yang
lain hebo dengan permainan gamenya.
Sementara, Anda duduk dikursi tamu, cuma mendengar kalimat “tunggu sebentar
yah”. Tentunya peristiwa ini langka dan sulit diketemukan, tapi kerap kali disaksikan
dalam restoran.
Saya kira, Frans Margo begitu cermat mengurai si
tulisannya berjudul “salah kaprah tren digital” di kolom opini
analisadaily.com, bagaimana gadget
menidurkan kenyataan. Anak yang merontah kepada orang tuanya, untuk mengisi waktu
yang lowong untuk berinterakasi kembali dengan gamenya. Begitu, sepinya hidup anak ini. Di tempat yang lain, anak
yang bawel, lincah dan antraktif ditundukkan dengan game online, kini anak itu hanya terpaku di layar datar. Sementara,
ibunya sibuk BBM-an dengan ayahnya diluar kota. Lain orang, lain pula
kejadiannya. alih-alih ingin mencerdaskan anaknya dengan kata “smart” yang dilekatkan pada handphone, seorang ibu memberikan hadia
ulang tahun kepada anaknya dengan dalih sang anak hebat bermain musik. Tapi,
nyatanya anaknya hanya berselancar di dunia maya, seperti Facebook, Wechat,
Whatsup, Twitter dan Instagram. Peristiwa-peristiwa seperti ini senantiasa
berkelindang dalam masyarakat.
Merangkak lagi ke
dunia pelajar, ternyata kehidupannya cukup tragis. Di mana handphone telah menjadi pertaruhan kelas, lihat saja para mahasiswa,
dosen dan pegawai menjadi Simbol status sosial. Diterima atau tidak, itulah
kenyataan. Tak salah lagi, jika tingkah laku mereka disadur oleh dunia maya. Rahasianya
dibeberkan di dunia maya, kecantikan dan kegagahan dimanipulasi dari aplikasi
olah gambar seperti Photoshop, Corel Draw dan aplikasi yang lain. Lalu,
diunggah ke dunia maya. Akhirnya banyak yang tertipu.
Berita hoax menjadi sarapan setiap saat, tak
jarang seseorang mendapatkan 2-6 broadcast
berita hoax dalam sejam di BBM.
Parahnya lagi, media online pun
terkadang tersulut dengan informasi yang tak benar. Seperti yang pernah terjadi
di Gowa Sulawesi Selatan, salah satu media menyebarkan dua versi informasi yang
bersamaan di tempat dan waktu yang sama. Berita pertama tentang letusan Gunung dan
versi kedua Jet Tempur F-16 dengan kecepatan rendah. Tentunya masyarakat
bingung pemberitaan berita ini. Tragis bukan?
Selamat
Datang Kaum Autis
Selamat datang dunia
riuh yang senyap, gempar lalu lenyap. Asyik dengan dunianya sendiri. Itulah
Kehidupan yang autis. Autisme ini, bukanlah cacat mental sebagaimana tinjauan
psikologis dan kesehatan. Kehidupan autis ini tak ubahnya sebagai gejala sosial yang melempeng dari
dunia maya. Dunia yang dicipta dari kemajuan teknologi dan informasi. Dunia
yang terkoneksi seluruh penjuru yang meluruhkan hubungan sosial, komunikasi, dan jalinan
emosi. Kehidupan sosial dicekat dengan kebiasaan menggesek layar, menyumbat
telinga dengan headset, bermain dengan fantasi game, dan bercengkrama dengan sahabat yang jauh dan bertutur dengan seseorang tanpa tahu
muasalnya. Ruang itu begitu imajinatif, dicipta untuk tertawa sendiri, girang
dengan sendiri, bahagia sendiri, galau sendiri, merontah sendiri. Inilah dunia
autis, hidup dengan kesendirian.
Seturut dengan David
Collmen (kompasiana.com) autisme sosial merupakan fenomena gaya hidup yang
sedang bermasalah. Menurut dia, autisme sosial sebagai akibat dari teknologi
yang memperpanjang konsekuensinya, teknologi senantiasa tercipta merajuk asa
untuk mengasingkan manusia kehidupan yang nyata dan bergantung pada teknologi.
Inilah Era “New media”, perayaan kedangkalan kehidupan nyata sebagai pencipta
kaum autis. Jangan-jangan, kitalah yang autis itu, sedang menjaga jarak dengan
orang yang terdekat. Lalu sibuk merajuk asa terhadap yang jauh. kita pun sinis
terhadap laku mereka, sementara aktor utamanya adalah kita. Sebagaimana
teknologi dicipta manusia, teknologi pula yang mendamparkannya dari kehidupan
nyata.
Berharap-haraplah
cemas! walau autisme sosial bukanlah kecacatan
neurologi (baca; Austisme) yang sulit disembuhkan. Autisme sosial tak lain dari
bentuk penyimpangan sosial. Penyimpangan ini bisa dihindari dengan beranjak
keluar dari dunia maya dengan mengembalikan interaksi sosial yang nyata. Sebab,
produksitivitas kreasi manusia berasal dari dunia yang nyata. Sebab, dunia maya
tak akan pernah menciptakan sensasi berjabat tangan, pelukan hangat dari
seorang sahabat dan juga mendapatkan gelegar suara emosi dari teman Anda.
Ingatlah, seorang sahabat jauh disana hanya bisa iba, bahkan dia tidak
merasakan apa yang dirasakan orang lain. Tapi, dunia nyata seseorang bisa
menangis bersama. Sambutlah dunia yang nyata? tinggalkanlah pesta dunia maya,
dengan berpesta di dunia nyata “sekiranya, itu lebih asyik”.
Oleh; Sampean
Yogyakarta, 07 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar