Rabu, 18 Februari 2015

Bulukumba; Menjaga ‘Trah’ Keilmuan



Bulukumba; Menjaga ‘Trah’ Keilmuan
(Catatan hari jadi Bulukumba ke-55)
Ahmad Sahide
Merayakan hari jadi/lahir sudah menjadi bagian dari budaya yang cukup masif diselenggarakan oleh masyarakat Indonesia, dari Sabah sampai Merauke. Hari jadi/lahir selalu dirayakan sebagai bagian dari upaya untuk melakukan refleksi kedirian. Membaca apa hal yang pernah dan belum dilakukan. Perayaan ini tentunya sebagai upaya memberikan makna lebih positif atas hidup dan kehadiran kita. Sebagai momentum menuju titik kehidupan yang lebih baik. Momentum dalam menjaga spirit kehidupan untuk dapat bersaing dengan yang lainnya.
Kabupaten Bulukumba tidak luput dari budaya tersebut. Pemerintah dan masyarakat Bulukumba merayakan hari jadi Bulukumba setiap tahunnya, yaitu setiap tanggal 4 Februari.  Berbagai macam kegiatan yang diselenggarakan untuk memeriahkan hari jadi Butta Panrita Lopi tersebut. Dalam perayaan tahun hari jadi Bulukumba ke-55 tahun ini, kesadaran apa yang perlu dan akan dibangun oleh masyarakat Bulukumba?

Trah Keilmuan
            Dalam sejarahnya, Bulukumba sebenarnya termasuk salah satu kabupaten yang mempunyai trah keilmuan yang sangat penting untuk dijaga oleh setiap generasi penerus Butta Panrita Lopi tersebut. Sederet nama telah lahir dari tanah Bulukumba yang berhasil mencatatkan namanya sebagai ilmuwan yang cukup dihormati di masanya dan dalam skala nasional. Ada almarhum Prof. Dr. Mattulada yang telah melahirkan banyak karya keintelektualan dari jari-jarinya yang mengantarkannya sebagai ilmuwan yang patut diabadikan. Banyak karya-karyanya yang menjadi rujukan para peneliti dan ilmuwan dari berbagai daerah, bahkan dunia internasional. Salah satu karyanya yang penting untuk kita baca adalah Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar Dalam Sejarah (1510-1700).
Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, sebagai tempat almarhum mendedikasikan hidupnya sebagai ilmuwan, mengabadikan namanya dengan meresmikan Aula Prof. Mattulada beberapa tahun silam. Masyarakat Bulukumba tentu patut berbangga bahwa Tuhan menakdirkan almarhum Prof. Mattulada lahir di tanah Bulukumba.
            Setelah kepergian Prof. Mattulada ke pangkuan Ilahi (2010), bukan berarti Bulukumba kehilangan generasi yang dapat menjaga trah keilmuan tersebut. Ada nama lagi yang cukup terpandang dalam jagat keilmuan Indonesia. Dia adalah Mochtar Pabottingi. Mochtar Pabottingi saat ini adalah Professor riset (Ahli Peneliti Utama) dan tokoh penting di Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) yang sering diundang menjadi narasumber di forum-forum nasional, bahkan internasional. Selain itu,  pengamat dan kolumnis politik kelahiran Bulukumba, 17 Juli 1945 ini aktif menulis buku dan menulis di berbabagi media nasional, seperti Kompas, Prisma, dan berbagai media lainnya. Mochtar Pabottingi, selain menulis artikel tentang politik, juga aktif menulis karya-karya sastra. Beberapa puisinya diterbitkan dalam Tonggak: Antologi Puisi Indonesia Modern 3 (1987), buku kumpulan puisinya adalah Dalam Rimba Bayang-bayang (2003). Pada tahun 2013, mengeluarkan karya “novel non-fiksi” dengan judul Burung-burung Cakrawala.
            Selain Prof. Mattulada dan Mochtar Pabottingi, ada lagi satu nama yang cukup menarik perhatian dan menjadi kebanggaan Bulukumba. Tokoh itu adalah Imam Shamsi Ali yang menjadi Imam Besar di masjid Islamic Center di New York. Imam Shamsi Ali menjadi tokoh Islam ternama di Amerika sejak berdirinya Indonesia Mouslim Society in America pada tahun 1998.
            Tentu masih banyak nama-nama tersohor yang pernah dan masih hadir saat ini yang mencatatkan namanya sebagai anak kelahiran Bulukumba yang mampu mengharumkan nama daerahnya di manapun mereka tumbuh. Setidaknya, dari tiga nama yang penulis hadirkan ini dapat menyadarkan kita semua, terutama warga Bulukumba, bahwa Bulukumba sebenarnya mempunyai darah keilmuwan yang megalir dari hulu leluhurnya. Dalam perayaan hari jadi tahun ini, generasi muda Bulukumba perlu menyadari bahwa mereka punya warisan keilmuan yang harus dijaga dari generasi ke generasi. Jangan biarkan warisan itu direbut oleh kelompok lain. Wahai anak muda Bulukumba, saatnya ujung penamu bicara dalam menegakkan Siri’, bukan (lagi) ujung Badik’!
Ahmad Sahide
Putra kelahiran Kindang, Bulukumba
Kandidat Doktor Sekolah Pascasarjana, UGM
Dan Staf Pengajar Fakultas Pendidikan Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar