JILBAB ITU TOPENG
“Tak apa akhlak atau Budi itu Buruk yang penting berjilbab,
setidaknya telah menggugurkan kewajiban”
Benarkah
jilbab itu lebih utama daripada Akhlak? Pertanyaan ini muncul dalam pergulatan
batin melihat fenomena Islam keseharian. Corak keberislaman yang kita dapatkan
dalam cukuplah beragam. Kebaragaman dapat dilihat dari konteks sosial
keberadaan Islam itu sendiri. Tak ayal corak keberislaman yang ada sekarang ini
telah mengikuti hasrat kapitalisme. Model keberislaman dikonstruk sedemikian
rupa untuk memenuhi kebutuhan pasar. Sebagaimana yang kita dapatkan dalam model
jilbab. Jilbab telah dikomodifikasi hanya bernilai materi dengan mendangkalkan
nilai yang dikandungnya sebagai produk syariat. Kecenderungan tersebut hanya
memperlihatkan bahwa jilbab hanya sekadar mode. Kecenderungan yang lain, pemakaian
jilbab hanya sebagai peneguhan kewajiban sebagai penganut agama Islam.
Penggunaan Jilbab diinterpretasikan mencegah berbuat dosa setiap saat. kedua
model perilaku tersebut terjerembab pada penyederhanaan terhadap ajaran Islam
khususnya pada para pemakai jilbab.
Kecenderungan
pertama, jilbab sebagai trend mode memerlihatkan
jilbab sebagai penampakan pesona individu. Tak pelak, jilbab hanya sebagai
aksesoris untuk menampilkan kecantikan perempuan dengan menghilangkan unsur
keagamaan. Tidak tanggung-tanggung para para pemakai jilbab ngeceng ke mana-mana tanpa terlihat
canggung di depan publik dengan tingkah laku yang erotis. Misalnya dalam
menghadiri konser perempuan tidak segan berteriak dan berbaur dalam kerumunan
penonton. Bahkan, perempuan tidak segan tampil seksi dan pakaian yang
transparan sementara menggunakan jilbab. Hal ini sangat kontras dengan Agama
Islam yang mengenal batas toleransi dalam berjilbab. Dalam al-Quran dan Hadis cukup
jelas menjelaskan tentang etika dalam berjilbab. Tapi, para pengguna jilbab
tersebut ngeyel bahwa mereka telah
menjalankan syariat Islam.
Kecenderungan
kedua, Jilbab sebagai peneguhan kewajiban. Kecenderungan kedua ini pemakaian
jilbab dimaknai sebatas pengguguran kewajiban. Persoalan akhlak atau laku
manusia adalah persoalan kedua. Jilbab tidak berkorelasi langsung dengan laku
manusia, tetapi persoalan peneguhan kewajiban atas risalah keberagamaan. Jadi,
konsekuensi penggunaan jilbab hanyalah persoalan dosa tidaknya seseorang.
Sebagai mana pendakuan seorang ustad dalam masjid mengatakan bahwa tak apa
akhlak itu buruk, yang penting berjilbab atau menutup aurat setidaknya telah
menggugurkan kewajibannya. Cara pandang ini diyakini oleh kalangan tertentu
dalam menginterpretasikan ajaran Islam. Utamakan fiqih di atas akhlak. Kalangan
ini cukup kontras dengan kecenderungan pertama di model jilbab cenderung
seragam sebagaimana pemaknaannya terhadap al-Quran dan hadist yang tekstual. Sehubungan
dengan persoalan ini, kerap ditemukan “memakai jilbab” ditemukan mesum dalam
kamar kost dan hamil di luar nikah. Bahkan, seorang yang dianggap taat menjaga
ibadah terjebak dalam lubang dekandensi akhlak. Beberapa tokoh Islam yang
bergiat dalam partai politik Islam sedang di bui karena kasus korupsi.
Kedua
kecenderungan perilaku pemeluk Islam terjerembab pada jebakan simplifikasi (penyederhanaan)
ajaran Islam. Kecenderungan pertama terjebak pada kehidupan yang artifisial,
jilbab hanya digunakan sebagai busana sebagai produk kultur. Sementara,
nilai-nilai yang religius dihilangkan dalam laku sosialnya. jilbab sebagai
produk kultur jilbab senantiasa mengikuti etika pergaulan manusia kontemporer. Gaya
jilbab terus dikembangkan sesuai mekanisme pasar, di mana media berperan
menghadirkan publik figur dengan mode (gaya) jilbab yang baru seperti model Marshanda,
model Ashanty, model Syahrini, model unisex dan model Pashmina. Jilbab telah
menjadi pergaulan kalangan kaum mudah untuk menampilkan perempuan yang
memesona. Pergaulan tersebut tidak lepas dari gaya hidup yang telah
dikomodifikasi untuk mengikuti tren mode yang berkembang dalam masyarakat. Bisa
jadi, kecenderungan jilbalisasi dalam
pergaulan akan berhenti ketika tren jilbab berhenti. Sementara, kecenderungan
kedua terjebak pada pengutamaan pengguguran kewajiban dibandingkan dengan
konsekuensi sosialnya. Golongan ini melahirkan penganut Islam yang taat. Namun,
kurang peduli dengan sesamanya kecuali dengan persoalan ibadah.
Realitas
yang nampak dalam Islam keseharian menunjukkan posisi yang dilematis bagi
penganutnya. Menurut Donny Gahral Adian (2013:6) bahwa situasi yang dilematis
karena keduanya bertindak berdasarkan rasionalitas instrumental. Sedangkan
Rasional instrumental menurut Donny (2013:98) adalah rasionlitas yang menimbang
sarana untuk mencapai tujuan yang terberi. Perilaku pertama dicanangkan oleh
komodifikasi pasar dan yang lain canangkan oleh agama yang murni ritualitas. Kedua
laku yang ditunjukkan oleh pemeluk agama Islam mereduksi suatu ajaran untuk
menjadi kepentingan pribadi. Perilaku pertama untuk kepentingan gaya hidup dan
peneguhan kewajiban terhadap Tuhan. Kedua laku tersebut masing-masing
mengesampingkan entitas suatu ajaran Islam.
Pengesampingan
ajaran dalam Islam melahirkan budaya yang prematur, sebab penggunaan jilbab
tidak bisa dibatasi pada ranah tertentu, baik ranah privat maupun ranah publik.
Tapi, penggunaan jilbab harus menunjukkan kedalaman dari keyakinan seseorang
yang berkorelasi dengan akhlak. Sebab, akhlak merupakan budi pekerti atau
kelakuan manusia yang terintegrasi suatu ajaran. Kelakuan manusia merupakan
bagian dari budaya itu sendiri. Budaya paripurna terlahir dari ajaran yang
paripurna ditunjukkan oleh laku penganutnya.
Sejarah
menunjukkan muncul, tenggelamnya suatu peradaban itu berdasarkan perilaku
manusianya. Dalam Islam sendiri, pengadaban kaum Qurais melalui Akhlak Rasullah
SAW, sebab nabi Muhammad SAW dengan Ajaran islam “al-Quran” suatu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan. Bisa jadi, al-Quran tidak punya Arti apa-apa tanpa
Muhammad SAW, begitu pun sebaliknya Nabi Muhammad SAW tidak punya arti apa-apa
tanpa al-Quran. Aisyah ra sendiri menekankan
bahwa Akhlak Nabi adalah al-Quran. Jadi, antara peneguhan kewajiban dalam
pemakaian jilbab harus berkesusaian dengan kelakuan ajaran Islam itu sendiri. sebab,
para pemeluk yang terjerembab dalam jebakan Mode dan pengguguran kewajiban,
jilbab tak ubahnya sebagai topeng atau kamuflase untuk bersembunyi dari borok
lakunya. Seperti yang dikutip oleh Bahrul Amsal
(http://alhegoria.blogspot.com/) dari Zizek mengutarakan bahwa Suatu keadaban
bukan pada suatu teks, pemikiran, dan permainan bahasa tapi apa yang akan dan
telah dilakukan manusia.
Yogyakarta, 1 Februari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar