Kemenangan
ARB, Kekalahan Golkar
Ahmad
Sahide
Musyawarah Nasional (Munas) Partai
Golkar yang cukup kontrovesial telah selesai pada tanggal 3 Desember lalu, di
Bali. Hasilnya adalah kembalinya Aburizal Bakri (ARB) untuk memimpin partai
pohon beringin tersebut untuk lima tahun ke depan. Kemenangan ARB ini telah
diprediksi banyak pengamat dan terlihat sejak awal di mana hegemoni ARB terhadap
partai yang sarat pengalaman tersebut cukup dominan. ARB mempunyai kekuasaan
struktural dan modal untuk mendominasi serta menyingkirkan lawan-lawannya.
Karena besarnya kekuasaan ARB itulah, ditambah dengan manipulasi Munas,
sehingga semua kader Golkar yang awalnya berniat maju melawan ARB memilih untuk
mundur dari kontestasi. ARB pun terpilih secara aklamasi.
Membaca dan mengikuti dinamika Munas
Golkar di Bali dari luar, Nampak bahwa ada sesuatu yang tidak sehat dengan
proses terpilihnya ARB secara aklamasi. Golkar adalah partai sarat pengalaman
serta mempunyai banyak kader potensial. Juga, Golkar selama ini dibangun dengan
kekuatan sistem dan perkaderan politik yang cukup stabil. Golkar tidak dibangun
dan digerakkan dengan kekuatan figur seperti Demokrat yang tergantung pada
ketokohan Susilo Bambang Yudoyono, PDI P yang tidak bisa lepas dari bayang-bayang
Megawati, Gerindra yang tergantung pada sosok Prabowo Subianto.
Itulah
yang membuat Golkar mampu bertahan sampai hari ini. Namun kemenangan ARB secara
aklamasi membawa tanda kepada publik bahwa Golkar yang selama ini digerakkan
dengan sistem, perlahan digerakkan dengan tokoh, dalam hal ini ARB. Golkar
berjalan sesuaui kehendak ARB, bukan mekanisme partai. Hal itu terlihat bahwa
pada awalnya Munas Golkar direncanakan pada Januari 2015. Namun dalam rapat
pimpinan nasional Golkar yang berlangsung di Yogyakarta pada pertengahan
November lalu memutuskan Munas diselenggarakan 30 November-3 Desember 2014.
Dari pengamatan luar terlihat bahwa ada permainan pada aturan main (mekanisme)
partai karena dan demi kepentingan ARB. Golkar mengikuti jejak Demokrat yang
digerakkan serta aturan main digonta-ganti demi kehendak Tuan Besarnya.
Kekalahan Golkar
Logika
yang dibangun oleh para pendukung ARB sehingga perlu ‘diberi kesempatan’ sekali
lagi untuk memimpin Golkar adalah perolehan suara Golkar 2014 yang sedikit
lebih baik dari pemilihan legislatif 2009. Atas dasar itulah sehingga ARB
dianggap oleh para pendukungnya tidak gagal memimpin Golkar.
Namun
yang menjadi catatan penting adalah partisipasi Golkar dalam pemilihan presiden
9 Juli lalu. Golkar sebagai pemenang pemilihan legislatif kedua, setelah PDI P,
gagal mendorong kadernya (ketuanya) sebagai calon presiden maupun calon wakil
presiden. Partisipasi Golkar dalam pemilihan presiden lalu adalah ‘sukarelawan’
bagi Gerindra dan Partai Amanat Nasional (PAN) yang mengusung Prabowo
Subianto-Hatta Rajasa. Pemilihan presiden Juli lalu pun tercatat dalam sejarah
politik Golkar untuk yang pertama kalinya berpartisipasi sebagai relawan, tidak
mengusung kadernya.
Kegagalan
Golkar berpartisipasi dalam bursa calon presiden atau calon wakil presiden
karena sosok ARB, sebagai ketua umum, yang memaksakan diri maju sekalipun
menyadari elektabilitasnya sangatlah rendah. Mungkin ARB berpikiran bahwa
elektabilitas bisa dibeli dengan mudah melalui kapital yang berlimpah serta
direkayasa dengan penguasaan media. ARB rupanya salah, meskipun ia mempunyai
modal yang besar serta menguasai media tidaklah membuka jalan yang lebar
baginya untuk melenggang ke istana. Golkar seolah tersandera oleh ARB yang
menutup ruang bagi kader-kader Golkar lainnya yang ‘layak jual’. ARB memaksakan
diri untuk maju padahal tidak mempunyai daya jual yang tinggi, bahkan ‘diobral’
sekalipun tidak ada yang melirik.
Kini,
dari hasil Munas di Bali, ARB kembali memenangi (secara aklamasi) bursa
kepemimpinan Golkar periode 2014-2019. Nampaknya kemenangan ARB, yang menuai polemik
internal, merupakan bagian dari kemenangan bagi Koalisi Merah Putih (KMP) untuk
membalas kekalahan mereka dari Joko Widodo-Jusuf Kalla dari pemilihan presiden
dan wakil presiden 9 Juli lalu. Namun dekimian, kemenangan bagi ARB dan KMP itu
adalah kekalahan bagi Golkar.
Pertama,
kemenangan ARB, meskipun secara aklamasi, menimbulkan krisis legitimasi dari
elite-elite Golkar. Agung Laksono dan kader-kader senior Golkar lainnya pun,
yang dipecat, membentuk Presidium Penyelamat Partai Golkar dan mereka
mewacanakan untuk menyelenggarakan Munas tandingan bulan Januari 2015 nanti.
Polemik internal ini sudah tentu membuat Golkar semakin tergerus nantinya dan
juga citranya di mata rakyat akan semakin rusak.
Kedua,
berlanjutnya kepemimpinan ARB untuk lima tahun ke depan juga melanjutkan proses
ketersanderaan partai warisan Soeharto tersebut apabila ARB tetap memaksakan
diri untuk maju sebagai calon presiden atau wakil presiden 2019 nanti. Jika hal
itu kembali terjadi, maka bukan tidak mungkin Golkar akan tetap sebagai relawan
dalam daur ulang kepemimpinan nasional 2019 nanti. Bukan karena golkar tidak
mempunyai kader yang layak jual, tetapi lebih karena Golkar tersandera oleh
ARB. Oleh karena itu, kemenangan ARB dalam munas di Bali 3 Desember lalu akan
menjadi kekalahan Golkar untuk menatap kontestasi politik 2019 mendatang.
ARB
seharusnya menyadari bahwa kemenangan sebuah lembaga atau organisasi biasanya
diraih ketika para tokoh yang berada di dalamnya dapat memenangi pertarungan
dengan dirinya sendiri, melawan ego. Kemenangan Jokowi-JK dalam pemilihan 9
Juli lalu tidak lepas dari kemenangan Megawati melawan ego dalam dirinya.
Megawati tentu masih punya keinginan untuk menjadi orang nomor satu di negeri
ini, tetapi jika memaksakan diri untuk maju dalam bursa calon presiden lalu
maka PDI P pun kembali akan menuai hasil pahit, kekalahan. Tapi penulis yakin
bahwa ARB tidak percaya dengan teori ini. Ia tentu mempunyai teori yang lain.
Maka mari kita tunggu dan lihat kiprah Golkar pada tahun-tahun mendatang.
Golkar
boleh percaya diri sebagai partai yang berpengalaman, tetapi juga perlu
melakukan introspeksi diri yang tidak pernah memenangi pemilihan presiden dan
wakil presiden selama tiga kali berlangsungnya daur ulang demokrasi
pascareformasi.
Ahmad Sahide
Kandidat
Doktor Sekolah Pascasarjana
Universitas
Gadjah Mada
Dan
Pegiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar