Benturan Dua Kekuatan
Darwin
Nilai Pancasila
terkikis dalam praktik politik:
Garudanya
saja habis dicat merah! (sindiran Mang Usil dalam Kompas, 3/10/2014)
Adu kekuatan dua kubu di Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR-RI) membuat hiruk ruang rapat gedung wakil rakyat, Senayan, Kamis-Jumat,
25-26 September lalu. Diputuskanlah Undang-Undang yang penuh kontroversi, yakni
pemilihan kepala daerah (pilkada) diserahkan sepenuhnya ke tangan DPRD. Dalam
hal ini, kubu Merah Putih leluasa memenangkan voting mengalahkan kubu Indonesia
Hebat, 226 berbanding 135 suara. Ruang rapat Senayan bertambah dramatis berkat
ulah para politisi Demokrat yang meninggalkan tempat.
Inilah kisah yang menjadi
perbincangan seluruh masyarakat, dari kota hingga pelosok desa, dari kalangan
elite maupun rakyat biasa hingga hari ini.
Namun, hemat penulis, masyarakat Indonesia terlalu memusatkan perhatian pada
persoalan pilkada langsung atau tidak. Padahal ada peristiwa unik lain di balik
drama di gedung DPR itu. Apakah gerangan?
Dari 226 suara anggota DPR yang
memilih pilkada tak langsung (melaui DPRD), 73 di antaranya adalah suara Partai
Golkar—yang lain PKS 55, PAN 44, PPP 32, dan Gerindra 22 suara—(Kompas, 27/9/2014). Suara Golkar tentu
saja tidak bulat mendukung pilkada tidak langsung. Ada 11 suara yang
berseberangan dengan kelompok koalisi yang diindikasikan sebagai belas dendam
ini. Sebelas suara inilah yang menarik bagi penulis. Siapa sajakah mereka? Ada nama-nama
semcam Nusron Wahid, Poempida Hidayatullah, Agus Gumiwang Kartasasmita, Emil
Abeng, Gusti Iskandar, Nudirman Munir, Taufik Hidayat, Chairuman Harahap, Neil
Iskandar, Oheo Sinapoy, dan ketua DPD Golkar Jawa Timur, Zainudin Amali.
Mekipun penulis tidaklah menyoal apakah
pilkada dilakukan secara langsung atau tidak, yang paling penting ada politisi
yang masih mempunyai hati nurani di tengah kerumunan politisi egois di
lingkaran elite negara kita. Nusron Wahid dan kawan-kawan di atas berani
berbeda dengan apa yang digariskan oleh partai mereka. Sangatlah langka di zaman
digital ini ada politisi yang berani berpikiran di luar arus utama. Umumnya
yang kita jumpai adalah politisi penurut yang tingkah pola mereka tidak
jauh-jauh dari ksabda pimpinan partai. Misalnya, apa yang terjadi di Partai
Demokrat saat Rapar Paripurna DPR itu. Ratusan anggota Fraksi Demokrat walk out (WO). Pimpinan fraksi Nurhayati
Ali Assegaf memerintahkan aksi WO berkat izin bos besar Demokrat, Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY). Salah satu politisi Demokrat, Ruhut Sitompul
mengatakan aksi WO ini mendapat persetujuan SBY yang tengah berada di
Washington, Amerika Serikat (Kompas,
27/9/2014).
Tentu saja ada wacana berbeda di
internal Demokrat. Sebagian kader Demokrat di DPR juga meniru sebelas kader
Golkar yang menyetujui pilkada langsung. Dalam catatan ada enam kader yang
memilih opsi ini. Namun, nama mereka belum bisa penulis lacak.
Sebagai pelengkap cerita, ada peristiwa
lain yang juga menarik didedahkan di sini, tentunya masih seputar ulah para
legislator yang ada di Senayan. Ceritanya ada pada kaum “sakit hati”, yakni
koalisi Merah Putih. Semua pimpinan lembaga DPR diambil alih oleh (lagi-lagi)
kelompok Merah Putih. Ketua DPR terpilih adalah Setya Novanto (Fraksi Golkar), dengan
pendamping Fadli Zon (Gerindra), Fahri Hamzah (PKS), Taufik Kurniawan (PAN),
Agus Hermanto (Demokrat). Koalisi Indonesia Hebat tentu saja hanya bisa pasrah sambil
geleng-geleng kepala karena dikalahkan berturut-turut oleh koalisi Merah Putih.
Dengan demikian, ada dua hal yang
bertolak belakang dalam fenomena para wakil rakyat di atas. Di satu sisi ada para politisi yang masih
peduli dengan apa yang dimaui rakyat, di sisi lain ada pula politisi yang
mementingkan kuasa walaupun itu menafikan hak-hak rakyat yang mereka wakili.
Dua fenomena yang patut disorot dalam lanskap politik terkini!
Masyarakat Sipil dan Politisi
Peduli
Betapa pun kuatnya negara (kelompok elite)
menghegemoni percaturan politik Tanah Air, hemat penulis tetap saja kekuatan civil society menjadi nomor satu. Banyak
contoh sebagai penguat tesis ini. Ada tragedi Cicak versus Buaya, kasus Prita,
dan yang mutakhir adalah berkumpulnya kekuatan civil society yang termanifestasikan dalama relawan pendukung
Jokowi-JK. Yang paling hangat lagi adalah heboh permainan cantik yang dilakukan
oleh SBY. Yakni kasus berkelitnya para politisi Demokrat di DPR dengan
melakukan WO yang tentu saja atas izin pimpinan, siapa lagi kalau bukan SBY.
Tentu saja masyarakat sipil tidak
terima dengan permainan ala SBY ini. Sontak saja gerakan dunia maya mem-bully Sang Presiden. Tagar
#ShameOnYouSBY pun menjadi trending topic.
Protes disertai kritik tanpa ampun tertuju kepada presiden yang gemar bermain
citra ini. Ada yang mengkritisi secara santun, tapi tidak sedikit yang
menghujat apa yang dilakukan SBY atas sikap plin-plan yang dilakukannya terkait
UU Pilkada ini.
Nah, di tengah kekuatan masyarakat
sipil inilah dibutuhkan politisi yang juga menuruti kemauan rakyat banyak,
bukan politisi yang menjauh dari rakyat. Sebenanya beberapa tahun belakangan
muncul para politisi penopang kekuatan sipil ini. Beberapa partai “menetaskan
telurnya”. Muncullah para pemimpin idaman di berbagai daerah seperti sering
disebut. Ada Ibu Risma di Surabaya, Jokowi di Solo, Ahok di Belitung. Yang lain
bertebaran di Jembrana, Bantaeng, Banyuwangi, Bandung, Bogor, Kebumen, dan negeri
lain di Tanah Air. Di Pusat, muncul para keder partai semacam Lili Wahid, Effendy Choirie (PKB),
Budiman Sujatmiko, Ganjar Pranowo (PDI-P), Yuddy Chrisnandy (Golkar, sekarang
hijrah ke Hanura), atau almarhum Suhardi yang santun di Gerindra. Sekarang, ada
sebelas kader yang patut kita apresiasi dari partai Golkar di atas, meskipun
itu tidaklah merepresentasikan apakah mereka betul-betul peduli bangsa atau
tidak. Tapi, yang paling penting ada ihtikad baik dari mereka.
Sekali lagi, inilah era kekuatan masyarakat
sipil. Era politisi peduli, santun, dan bekerja demi kepentingan orang banyak. Bukan
zamannya lagi politisi sekarang sibuk dengan kepentingan sendiri, kelompok,
atau golongan. Fenomena koalisi Merah Putih yang keterlaluan di DPR hemat
penulis akan tergerus dengan sendirinya oleh penolakan rakyat terhadap mereka.
Lihat saja seorang Amin Rais,misalnya, yang tidak mempunyai wibawa lagi di mata
rakyat banyak, padahal dulu beliau katanya adalah tokoh perubahan (Reformasi). Jadi,
jika mau selamat dari bully yang itu
dikomandoi kekuatan rakyat, segeralah bertobat wahai para politisi kelompok
pembjak negara! Jangan malah mengincar semua posisi di lembaga legislatif.
Pimpinan MPR memang empuk. Tapi amanah rakyat jangan diabaikan!
Kembali ke kutub yang berseberangan
tadi. Ke depan, benturan dua kekuatan
antara politisi yang didukung masyarakat sipil dan politisi pembajak negara ini
akan terus terjadi. Kekuasaan itu sungguh menggoda. Ia akan selalu menyertai
perjalanan negara menuju cita-citanya. Bagi kita, tinggal mengamankan kekuatan
sipil ini agar tidak diringsek oleh kekuatan negara yang tecermin dalam koalisi
Merah Putih itu. Demikian! Wallahu
a’lam bi al-shawab. ***
Okt 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar