Minggu, 22 Mei 2011

Pak Nanang dan Nasionalisme

Suara teriakan masyarakat Indonesia kembali menggelegar diseluruh tanah air. Ini terjadi pada minggu, 19 Desember 2010. Teriakan ini menjadi pertanda bahwa kecintaan rakyat Indonesia terhadap Tim Nasional (Timnas) merah putih masih sangat tinggi. Mungkin inilah yang dinamakan semangat nasionalisme atau mungkin sebuah bentuk kekesalan dalam versi baru yang dilampiaskan oleh rakyat untuk memperlihatkan kepada pemerintah bahwa rakyat masih loyal terhadap merah putih. Semangat nasionalisme dalam diri rakyat sempat terusik beberapa waktu yang lalu akibat karena keegoisan pemerintah yang mengatas namakan demokrasi. Sebuah demokrasi versi pemerintah. Tapi lupakanlah untuk saat ini, demokrasi versi pemerintah itu apa dan demokrasi versi rakyat itu apa! Paling tidak rakyat terhibur dan rasa nasionalisme masih melekat dalam dirinya. Kita nikmati dulu pertunjukan bolanya saat ini. Begitulah kira-kira yang terbersit dalam hati Pak Nanang saat ini ketika mendengar dua orang mahasiswa yang mengoceh disampingnya.“Ayo umpan kekanan kemudian bolanya diberikan ke Gonzales kekiri dan langsung eksekusi………………..aih… bodoh, tinggal sentuh dikit pasti gool..” begitulah teriakan sekaligus mengajarkan cara bermain bola oleh pak nanang seorang penonton setia dari TIMNAS Merah Putih. Terkadang penonton lebih cerdas dari pemain yang segala sesuatunya dianggap mudah. Padahal ketika mereka sendiri berada dilapangan hijau, jangankan menendang bola dengan baik, laripun ngos-ngosan (bahasa penulis).


“Ayo, tendang kesebelah kanan kemudian langsung umpan kebawah, kemudian ayo Gonzalez sundul kearah kanan gawang dan Gool.... gooooooooooll”. Inilah bagian dari ekspresi yang keluar dari mulut pak nanang dimalam itu. Sebuah peristiwa terjadinya gol yang diciptakan oleh Cristian Gongsales seorang pemain naturalisasi TIMNAS merah putih asal Uruguai ketika melawan Filiphina lef kedua di Stadiun Gelora Bung Karno.

Semangat nasionalisme terhadap timnas merah putih yang luar biasa telah melekat dalam diri pak Nanang. Beliau adalah seorang pedagang angkringan yang telah rela meliburkan angkringannya demi melihat aksi-aksi yang dimainkan oleh pemain TIMNAS kita. Wajar kalo Pak Nanang senang melihat TIMNAS Merah putih menang saat ini karena beliau beberapa tahun kebelakang sangat jarang melihat Timnas berada diposisi yang dicapai saat ini yakni masuk final yang nantinya berhadapan dengan Malaysia.

Sebuah pencapaian yang luar biasa telah diperlihatkan oleh timnas merah putih. Tentunya keberhasilan timnas merah putih tidak terlepas dari pelatih Alfred Riedl yang berkebangsaan Austria yang gayanya tidak pernah senyum hampir mirip dengan Mourinho pelatih club sepak bola yang disegani didunia yakni Real Madrid. Dan tentunya dibawah naungan PSSI yang tahun-tahun sebelumnya telah terpuruk dibawah komando Nurdin Khalik. Apa yang dilakukan Timnas merah putih malam ini mampu menenangkan hati rakyat Indonesia dan melupakan sejenak permasalahan bangsa yang terjadi saat ini.
Keceriaan dan kebahagiaan tergambar diwajah pak Nanang malam itu. Seolah-oleh tidak ada beban yang melekat dalam dirinya. Padahal, Pak Nanang adalah seorang kepala rumah tangga yang memiliki lima orang anak dan satu istri yang harus dinafkahi. Namun karena semangat kecintaannya dan semangat nasionalismenya terhadap Timnas merah putih terpaksa malam ini pak nanang meliburkan demi melihat kasi-aksi timnas merah putih. Di pagi hari, pak nanang bekerja sebagai buruh kuli bangunan dan dimalam hari bekerja sebagai penjual angkringan.

Nasionalisme yang dimiliki oleh Pak Nanang adalah sebuah nasionalisme sejati dalam versi saya. Demi kecintaannya terhadap timnas merah putih dengan rela mengorbankan pendapatannya dimalam itu. Selain itu, Semangat nasinalisme yang diperlihatkan oleh pak nanang dengan bekerja keras sebagai buruh kasar disebuah pembangunan irigasi.

“Bekerja sebagai buruh bangunan atau buruh irigasi merupakan sebuah kehormatan kepada kita sebagai rakyat kecil karena hanya inilah yang bisa kita berikan kepada negara dan masyarakat dan jarang orang mendapatkan kesempatan itu demi kelangsungan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia”.
“Coba bayangkan kalau tidak ada lagi orang yang mau bekerja sebagai buruh dan semuanya beralih profesi sebagai orang kantoran yang kerjanya memakai dasi dan menghabiskan uang negara dengan cara korupsi, apa kata dunia?” sebuah ceramah yang setiap malam dilakukan oleh pak nanang kepada anak-anaknya agar kelak ketika anak-anaknya suatu hari nanti bekerja sebagai pegawai kantoran sadar akan penderitaan masyarakat dan menimbulkan kesadaran untuk tidak korupsi.


Rezki Satris
Pegiat forum “Komunitas Belajar Menulis”
Yogyakarta, 25 Desember 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar