Kongres
PAN; Amien Rais dan Masa Depan Partai
Ahmad
Sahide
Tidak dapat dimungkiri bahwa
partai-partai politik yang bermunculan pascareformasi sangat tergantung dengan
kebesaran dan daya magnet dari tokoh pendirinya. Kelahiran Partai Amanat
Nasional (PAN) sebagai salah satu partai yang cukup diperhitungkan dalam kancah
politik nasional pascareformasi karena ada sosok Amien Rais, pendiri dan Ketua
Umum PAN pertama. Amien Rais dikenal sebagai tokoh reformasi yang mempunyai
basis massa yang besar (Muhammadiyah) mengingat Amien Rais pernah diberi amanah
sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.
Oleh
karena itu, eksistensi PAN pascareformasi 1998 tidak terlepas dari sosok Amien
Rais itu sendiri. Demikian halnya dengan partai-partai politik lainnya yang
bermunculan pascareformasi, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang tidak
terlepas dari ketokohan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sempat mencecap
sebagai orang nomor satu di negeri ini. Partai Demokrat (PD) juga sama, ada
sosok Susilo Bambang Yudoyono (SBY) di balik kesuksesan partai baru ini untuk
menjadi partai penguasa selama dua periode (2004-2014), bahkan menjadi partai
pemenang pemilihan umum legislatif pada 2009 lalu. Hal ini menunjukkan demikian
pentingnya figur dalam eksistensi suatu partai politik.
Tanpa
bermaksud membesar-besarkan, akan tetapi kader PAN dari Sabang sampai Merauke
harus mencatat selalu bahwa ada Amien Rais di balik keberlangsungan PAN sampai
hari ini. Tidak heran kalau Guru Besar Fisipol UGM ini menjadi salah satu
perhatian dalam regenerasi kepemimpinan PAN yang berlangsung di Bali pada
tanggal 28 Februari-2 Maret 2015. Namun demikian timbul pertanyaan di banyak
kalangan, tepatkah keberadaan mantan Ketua MPR itu dengan mengambil sikap
mendukung salah satu kandidat?
Sikap Amien Rais
Sebagai bagian dari partai, Amien
Rais tentu mempunyai hak mengambil sikap, baik mendukung maupun tidak mendukung
salah satu kandidat yang berkompetisi. Maka dari itu, sah-sah saja jika tokoh
reformasi ini mendukung salah satu kandidat (Zulkifli Hasan) untuk menjadi
nahkoda baru partai berlambang matahari terbit itu. Dari awal, Amien Rais
terang-terangan memberikan pernyataan publik untuk dukungannya terhadap
Zulkifli Hasan dan terkesan ‘membunuh’ calon petahana, Hatta Rajasa. Padahal
semua tahu ada sosok Amien Rais di balik terpilihnya Hatta Rajasa secara
aklamasi lima tahun lalu. Dan semua juga tahu Amien Rais termasuk tokoh yang
mendukung penuh pencalonan Hatta Rajasa sebagai calon wakil presiden 9 Juli
2014 lalu.
Kini Amien Rais justru hadir dalam
kongres IV PAN di Bali untuk ‘membunuh’ orang yang pernah diangkatnya.
Sebagaimana Amien mengangkat Soetrisno Bachir sebagai Ketua Umum PAN sepuluh
tahun silam dan kemudian ada juga sosok Amien di balik ‘matinya’ karir politik
Soetrisno Bachir lima tahun lalu.
Amien Rais tentu dapat
merasionalisasikan untuk membenarkan sikapnya untuk mengambil sikap dalam
kongres PAN sejauh ini. Hal itu tidak dapat disalahkan. Tapi juga ketika Hatta
Rajasa masih mempunyai keinginan untuk maju lagi kemarin, juga tidak dapat disalahkan
karena tidak ada dalam konsitusi yang melarang calon petahana untuk maju lagi
(satu periode). Kesalahan Hatta Rajasa mungkin karena tidak mendengarkan seruan
Amien Rais. Di sinilah letaknya, sikap dan kehadiran Amien Rais dalam kongres IV PAN tahun ini terlihat
kurang cantik.
Akan jauh lebih mulia sekiranya
mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menempatkan diri di atas semua golongan
dan tidak menempatkan diri berada pada gerbong lain karena hal itu akan
mengerdilkan dirinya sebagai tokoh bangsa dan juga tokoh reformasi, meskipun
dia mempunyai kecenderungan terhadap salah satu kandidat yang bersaing. Selanjutnya,
juga akan lebih baik seandainya seruannya untuk kepemimpinan PAN satu periode
itu digodok dalam pembahasan AD/ART yang berlangsung di Bali 28 Februari-2
Maret bulan ini.
Dengan demikian, Amien Rais dapat
menjaga dirinya sebagai tokoh PAN dan tokoh bangsa. Keberadaan pengaruhnya di
PAN bukan karena ia hadir dalam setiap ajang pemilihan nahkoda baru dan juga
tergantung dengan kemenangan dari kandidat yang dia dukung, tetapi ia hadir
menjadi ruh dan inspirasi PAN ke depan, siapa pun itu nahkodanya. Amien menanamkan
nilai-nilai, aturan main, dan keteladanan dalam berpolitik. Itu tentu yang
dinanti dari sosok Amien Rais sebagai tokoh yang menjadi panutan banyak orang. Semoga
saja kongres ke-IV PAN kali ini menjadi ajang kebangkitan partai dan bukan
momentum lahirnya perpecahan internal sebagaimana yang menjangkiti beberapa
partai saat ini.
Ahmad Sahide
Kandidat
Doktor Sekolah Pascasarjana
Universitas
Gadjah Mada
Dan
Pegiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar