Minggu, 17 Januari 2016

Bukan Karena Lelah


Bukan Karena Lelah
Oleh:  Nurwahidah A.Md
     Lelah salah satu  penyakit yang telah menganggu  jiwa pribadi. Banyak  manusia yang memiliki keinginan yang kuat melakukan sesuatu hal dan harus terwujud, apapun caranya. Walaupun kadang kala harapan tak sesuai kenyataan.  Beberapa orang sering mengalaminya  itulah kehidupan. Seperti yang dialami mahasiswa Ama Yogyakarta. Dika, lelaki lajang dari Sulawesi Tenggara. Ia dikenal pekerja keras, ringan tangan,  cerdas dan naif. Hidungnya agak  mancung, kulitnya sawo matang, bola matanya sayu, alis coklat dan tipis. Banyak perempuan yang tergila-gila dengannya, pernah juga ditaksir  sama dosen. Walaupun begitu ia tetap apatis.  Tidak mau mengenal apa itu pacaran.
            Sosoknya dikenal baik, ia ditawari berdiam di rumah pak Samir. Beliau kesehariannya berjualan kue basah di pasar kota gede Yogyakarta. Tak mikir panjang, Dika pun mengiyakan. Sebuah rumah warna coklat, banyak sampah berhamburan. Bakteri yang nempel di dinding, lebih banyak tikus berkeliaran dibanding nyamuk.  Kamar berukuran 2x4 cm itu terlihat kumuh, pengap tak ada jendela.  Itulah Dika selalu mencoba hal yang baru.  “Namanya juga gratis siapa sih yang mau nolak? aku harus pandai bersyukur, meskipun kenyataannya siap bertempur dengan kotoran.”Ujarnya.
            Hari ini adalah hari minggu. Sangat panas, kulit Dika terkelupas. Tak ada cara lain dilakukan kecuali berlari ke  mesjid Al-Wahid samping rumah. Di sanalah kadang tidur pulas di bawah naungan kipas angin. Dika tinggal dengan sahabat karibnya.  Harisan, namanya sungguh menawan  seperti orangnya lembut,  perhatian, tidak berlebihan dalam berpakaian. Setia mengekor di manapun Dika  melangkah. Hobby-nya tertawa. Sosoknya  luar biasa di mata Dika.
            Sebagai kompensasi mereka membantu  jualan aneka kue. Membersihkan rumah, mengantar aneka kue dari kampus ke angkringan, memasak lalu cuci wadah. Pernah sekali  Dika kesal saat pak Samir menampakkan wajah serigala. Ya, pak Samir akan  mengamuk dan mengomel jika penjualan kue tak laris. Tak ada cara lain  yang dilakukan hanya tunduk dan pasrah. Itulah salah  satu adat yang ditekuni anak kos-kosan, harus kuat mental.


            Kata lelah tidak hilang dalam jiwa mereka. Terkadang  mandi di Mesjid, beruntung jika penjaga mesjidnya  baik, eh serigala juga. Pernah sekali Dika ke Mesjid bersiram, tiba-tiba  bertemu bapak tuyuk  tak  tahu persis namanya. Tubuhnya kurus kerempeng,  kulitnya hitam, bibirnya tebal   dan kumis yang serampangan menutupi bibir   atasnya. Saat itu ia memegan sapu. Dika pun masuk sambil tersenyum. Biar dibilang ramah.
            “Pak. Aku mau mandi boleh tidak?” Ujar Dika.
            “Apa,  Mandi? emang di tempatmu  tidak ada air?” wajah bapak tuyuk itu  merah merekah, bola matanya berputar-putar. ”Dasar anak kosan  sukanya numpang.”Rasa takut  yang dialami  Dika sungguh amat  takut. Ya, tidak ada cara lain kecuali lari menuju kamar  mandi.
                                                                         &&&
                        “Buuuurrrrrrrrmmmm”        
            Suara alarm berdering,  pukul 04.00. Dika  dan Harisan bangun, menuju ke Mesjid, tak lupa mengangkat tangan dan wajah menghadap sang Ilahi, biar dimudahkan segala urusan. Usai shalat mereka menuju rumah pak Samir. Dika tugasnya mengambil beberapa wadah dan kue, lalu diantar  ke  jalan raya.  Aneka kue  arem-arem, bakpia, donat, pastel dsb. Harisan mengantar kue kampus UAD, UPN dan angkringan.
                 Keseharian mereka  menuju ke kampus dengan menggayuh sepeda ontel. Perjalanan 15 menit menuju Ama Yogyakarta.  Sesampai di sana bercucuranlah keringat yang terlihat diseragam biru. Mereka  harus melewati ratusan mahasiswa yang berkeliaran di area kampus. Dika melangkah terlihat  apatis menuju  Let.C. Tempat interaksi jual beli makanan dan minuman. Meskipun Harisan mengekor dibelakangnya. Ia menyembunyikan sebuah senyum. Senyum yang menyimpan  duri. Tunduk menenteng wadah beberapa kue basah di dalamnya.  Jika  Jam kuliah  mulai tiba,  maka mereka tetap mengikuti perkuliahan, usai itu  lanjut lagi  berjualan.
            Jam tiga lewat dua puluh menit. Mereka menutup  Let, C dan segera pulang.  Lelah, letih, lesuh dan jenuh. Wajah Dika  terlihat  pucat tapi, tetap memaksa diri menggayuh sepeda. Air bening menetes bersamaan dengan keringat “Tuhan, seperti inikah perjuangan hidup? Aku harus kuat karena masih banyak orang yang belum sempurna tidak punya tangan dan kaki, tapi  tetap kuat bekerja keras, jika mereka bisa melakukan hal itu, kenapa aku tidak?”lirihnya.
            Tiba di kosan  terkumuh  tidak lupa mereka memberikan,  hasil penjualan kue  pada pak Samir yang akhir-akhir ini tambah  sangar. Harisan yang membuang badan ke lantai lalu tidur. Bagi Dika pulang kuliah tak boleh langsung lelap. Ia pun tetap  ke mesjid bersiram meskipun  sudah ada peringatan keras kalau tidak boleh mandi di sana.  Berlari ke kamar mandi, shalat lalu siap-siap ke tempat kerja.  Pekerjaan  Dika  jika pulang kuliah adalah jadi waiter di Resto Bombay. Masih lelah tapi ia harus menampakkan wajah yang berbinar di mata para tamu. Berangkat jam Lima sore dan pulang jam sebelas malam, kadang lewat waktu sampai jam dua. Baginya  pekerjaan akan berjalan dengan lancar  jika di jalani dengan enjoy.
             Jika hari libur tiba, Dika tetap semangat mengikuti sebuah komunitas belajar menulis pada malam Senin, di Jl. Golo Yogyakarta. Di sana ia tumpahkan isi hatinya melalui tulisan. Berawal  dari sinilah  Dika mulai mengenal para penulis mayor. Kanda Ahmad, bang Darwin, pak Sukma, Sabil dan masih banyak lagi. Dika pun mau mengikuti jejak mereka biar bisa dikenang dalam sebuah karya.
             Kuliah, berjualan kue , bekerja di restoran dan selipkan waktu menulis. Dika  mengalami  drop lalu tipes. Ia pun dirujuk  ke Rumah Sakit Hidayatullah. Ia terbaring lemas dan tak berdaya. Harisan tetap setia disampingnya. Setia menemani bahkan ia pun  absen  kuliah dan tak berjualan kue. Beberapa mahasiswa dan dosen terpukul mendegar kabar duka bahwa mahasiswa yang hebat itu tak nongol di kampus. Mereka mengangah dan tak percaya melihat raut Dika yang tinggal menunggu ajal. Namun, Dika  tetap mengupas senyum. Dipikirannya hanya satu, bagaimana  soal pembayaran Rumah Sakit  Rp8.000. Dan ternyata Tuhan masih dipihaknya. Berapa bantuan dari dosen dan sekelasnya melakukan baksos. Duapekan  kemudian. Uang tersebut berhasil dipengan Dika. Namun, ia mulai berbohong menyembunyikan sesuatu malah  ketahuan juga.
       “Dasar ya, Dika dikasih uang buat bayar biaya Rumah Sakit. Malah duitnya  disumbangkan di panti asuhan.” Ujar beberapa sekelasnya. Mereka kesal dangan tingkah Dika yang  sangat konyol.
            Itulah Dika, lebih memetingkan orang lain dibanding dengan nasibnya. Baginya masih banyak orang yang lebih butuh bantuan. Selagi masih bisa membantu maka ia akan membantu.  Meskipun pembayaran Rumah Sakit, ia minta dengan orang tua. Dika berharap ada kata maaf dari mulut para kerabat yang rela mengadakan baksos demi melunasi biaya Rumah Sakit. Dua pekan  off-name, Dika mulai sembuh. Ia pun tetap kembali beraktivitas seperti biasanya. Meskipun disuruh istirahat tapi, tetap saja nekad dan tetap bekerja keras. Katanya tak boleh memanjakan diri selagi masih dirantau, memang harus siap menderita dan tetap semangat.
                                                                                    Yogyakarta, 09 Juni 2015

                                                     
                                                                               

Senin, 21 Desember 2015

Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta, Menyambut Hujan Bulan Desember



Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta
Menyambut Hujan Bulan Desember

Hujan di bulan Desember berlinang dengan kenangan, manakala air mata telah mengering.  Rinai hujan di luar pintu jendela mengucur deras. Sesekali sepasang bola mata mengintip ke luar jendela, jejak langkah terhapus air hujan. Kini, hanya menunggu genangan untuk merapal jalan yang basah. Tapi, izinkan aku mengecup bulan Desember di simpang jalan.
Di bulan Desember 2015, Komunitas Belajar Menulis (KBM) Genap lima tahun menyambut jalan yang basah, titah kehidupan ia rapalkan dengan segenap pengabdian. Membina generasi yang tampak sungsang. Membuka jalan setapak menuju bukit kata, menjajaki kehidupan yang tampak suram. Dalam kata ditemukan kehidupan, dalam rumpun kalimat disemai makna, di dalam buku kehidupan diabadikan. Itulah, titah yang dijalankan KBM membabat belukar kehidupan dengan pena. KBM terlahir di bulan yang basah atau bulan yang penuh kenangan dan genangan. Biarkan tahun mengatup di bulan Desember sebagaimana usiaku (Penulis)  kembali menjajaki di penghujung jalan. Coretanku terlahir dari rahim KBM.
Aku sebagaimana yang lain, ditampung di ceruk KBM mengasah ketajaman pena, menyusun piramida kata, dan melukis bahasa. Setelah itu, diteror galak tawa dan kritikan menohok. Muka tampak merah padam, keringat berkucur deras, debar jantung semakin menggebu, dan senyum tersipu malu adalah ucapan selamat datang di KBM. Lihatlah sang pemula, pasti tampak malu-malu, celingak-celinguk, dan atau tertunduk rapuh membaca lembaran-lembaran kertas di depannya. Tapi, bukan ini yang menjadi kesan utama di KBM. Sebab, Jika Anda lupa bahagia silakan mampir di KBM. KBM adalah tampung air segi empat (lihat novel Pulang, 196-197 ). Di KBM dirayakan galak tawa, bermain-main dengan syair dan membual bersama. Tak heran jika pesertanya hilir mudik, bertahan, dan lupa jalan pulang ke KBM.
Selama kurang lebih setahun di KBM, Ini kali Pertama KBM mengadakan kegiatan di luar rutinitas berjamaah di malam Senin. Tepat pada tanggal 14 Desember 2015, KBM mengadakan diskusi “klinik kepenulisan” yang dibawakan oleh Ade Ma’aruf Wirasanjaya, S.IP., M. A dan Teori Public Speaking” oleh Ratih Herningtyas, S.IP., M.A di markas KBM, Jalan Golo, no. 36A Yogyakarta. Diskusi akan dimulai tepat pada pukul 14.30-17.00 WIB. Namun, tidak berjalan sesuai dengan harapan. Diskusi terus ditunda sampai pada pukul 17.01 WIB dengan alasan pematerinya belum datang. Berdasarkan desas-desus yang berkembang di peserta diskusi “pemateri terlambat karena sedang menguji di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta”.  Sambil menunggu pemateri Ade Ma’aruf Wiransanjaya dan Ratih Herningtyas, Moderator membuka acara diskusi dengan perkenalan dan pembacaan puisi dari peserta diskusi.
Pembacaan puisi disambut riuh oleh peserta, suara tepuk tangan menderu setiap akhir pembacaan puisi. Muka malu-malu di antara butiran hujan yang jatuh di luar sana, tidak mengurangi desiran suara merdu para pembaca puisi. Rasa malu lekas pergi, buku puisi terus bergulir di antara para peserta. Senandung lirih terus menggema hingga pada akhirnya hampir semua peserta mendapat giliran membaca puisi. Semuanya berjalan sesuai dengan nada gemericik hujan di luar ruangan. Suara adzan Magrib ikut berhembus bersama desiran angin, pembacaan puisi diakhiri. Dengan melanjutkan pelaksanaan salat berjamaah. Sementara, pemateri (Ade Ma’aruf Wirasanjaya) masih dalam perjalanan.
Penantian yang cukup panjang dari pukul 14.00-18.00 beberapa peserta mulai mangkat. Mungkin, di antara yang pulang masih ada rindu yang disematkan pada kekasih atau janji yang tidak bisa diingkari. Gemerlap malam Minggu masih sulit terbendung pada jiwa muda, nada-nada cinta masih menghias di bawah pelupuk mata. Jalan pulang adalah pilihan terbaik untuk beradu dengan malam “memadu kasih”. Tapi, semoga bukan itu yang menjadi alasan pulang. Dari tutur mereka yang pulang karena ada kegiatan malam itu “Minggu”, mereka sedang penggalangan dana, dan memiliki kegiatan penting di tempat lain.
Gemericik butiran hujan terus berpagut dengan malam, Ade Ma’aruf Wirasanjaya telah tiba. Beliau memasuki klinik KBM dengan warna baju merah maron, celana warna hitam dengan menenteng tas laptop di tangan kirinya. Beliau disambut dengan senyuman peserta diskusi, beberapa orang menyalaminya dengan senyum simpul perkenalan. walaupun, kedatangan beliau sangat telat, acara diskusi tidak pindahkan ke hari lain. Sebab, Beliau sedang menada hujan.

Ade Ma’aruf Wirasanjaya Menada Hujan
Pada pukul 18.15 WIB, acara diskusi dimulai oleh saudara moderator Wira Prakasa Nurdia dengan ucapan basmalah “Bismillahirahmanirrahim”. Selanjutkan, moderator memperkenalkan identitas singkat dari pemateri, yang bernama Ade Ma’aruf Wirasanjaya, S.IP., M. A, sebagai pengajar di jurusan Hubungan Internasional Muhammadiyah Yogyakarta. Beliau juga sebagai penulis di berbagai media baik media lokal maupun media nasional. Setelah itu, sang moderator mempersilakan pemateri untuk memaparkan tema diskusi kali itu yakni; “Teknik dan Pola-pola Penulisan Essai, Artikel dan Buku”.
Kesempatan itu disambut baik oleh Pak Ade M. Wirasanjaya. Permohonan maaf tidak lupa disampaikan oleh pak Ade M. Wirasanjaya karena keterlambatannya dan titian permohonan maaf dari ibu Ratih Herningtyas, S.IP., M.A, yang tidak sempat hadir pada kesempatan malam itu. Dan jadwalnya dipindahkan ke hari yang lain.
Tanpa terlalu lama basi-basi beliau langsung menjabarkan materi teknik penulisan yang baik dan persoalan yang dihadapi oleh penulis. Menurut penuturan Pak Ade, seorang penulis harus memiliki 3i (Insight, Information, Imagination). Tanpa kemampuan tersebut kemampuan menulis seseorang akan mengalami kemandekan. Dan kualitas tulisan ditentukan oleh ketiga unsur tersebut. Seseorang penulis harus punya wawasan (Insight) yang luas, yang didukung oleh data (Information), dan di dukung oleh daya imajinasi (imagination) seorang penulis. Imajinasi seorang penulis sangat penting untuk memainkan daya alir sebuah tulisan. Sebuah tulisan yang baik ketika enak dibaca, tata bahasa yang baik serta permainan diksi, yang melenakan pembaca.
Selain itu, seorang penulis dituntut untuk mempersiapkan tiga hal yaitu basic knowlodge atau angel of view (sudut pandang) dalam melihat persoalan atau masalah sosial yang terjadi di sekeliling kita. Sebaiknya, sudut pandang penulis dipengaruhi oleh disiplin  akademiknya (keilmuan). Selanjutnya, penyusunan outline perlu dilakukan untuk mempercepat lahirnya sebuah tulisan dan memberikan gambaran umum untuk mempermudah dalam membuat tulisan. Dan kiranya, tulisan harus mengandung  “rasa” (sense) untuk fokus menjabarkan sebuah tulisan. Sehingga, tulisan tersebut tidak kering, dan dangkal agar tampil impresif dan enak dibaca.
Terlepas dari hal tersebut, ada tiga perkara yang sering dihadapi oleh penulis khususnya pada penulis pemula yaitu; memulai tulisan, mengisi konten tulisan, menutup tulisan. Untuk menghadapi perkara ini pada hakikatnya bisa terjawab ketika didukung dengan penguasaan 3i tersebut. Tetapi, Ketiga perkara tersebut menjadi hal yang paling rutin ditanyakan dalam setiap pelatihan dan diskusi kepenulisan. Pada dasarnya Pak Ade M. Wirasanjaya memaparkan untuk mengatasi persoalan tersebut, mengenai teknik membuka tulisan, mengisi konten tulisan dan menutup sebuah tulisan. Namun, dalam pemaparan dalam tulisan ini kurang memungkinkan karena mempertimbangkan kerugian pembaca. Sebab, pembaca tidak merasa rugi ketika “penulis”menjelaskan secara rigit dalam tulisan ini. Semoga di lain waktu bisa menyempatkan waktunya untuk hadir di diskusi yang lain.

Epigon dan Plagiat
Unsur–unsur di atas merupakan unsur teknis yang memengaruhi sebuah tulisan. Namun, ada hal non-teknis yang tidak kalah penting dalam memengaruhi sebuah tulisan yaitu; pertama, gaya penulisan turut menentukan dalam tulisan karena gaya tulisan mencerminkan karakter penulis. Gaya penulisan menjadi faktor penarik bagi pembaca. Sebab, gaya penulisan menjadi daya tarik tersendiri dan mempengaruhi orisinalitas karya penulisnya misalnya Ignas Kleden, Yudi latief, dan Goenawan Mohammad. Tetapi, bagi penulis pemula disarankan untuk meniru gaya penulisan sesuai dengan penulis yang diidolakan. Model seperti ini  dinamakan epigon menurut Ade M. Wirasanjaya.  Epigon sangat berbeda dengan plagiat karena plagiat meniru atau mengambil isi tulisan tanpa mencantumkan penulisnya. Sementara, epigon adalah meniru gaya penulisan atau model untuk menyampaikan gagasan seorang penulis.
Kedua, komunitas. Sebaiknya seorang penulis mempunyai komunitas untuk mengasah ketajaman penanya seperti di KBM. Komunitas bermanfaat untuk mengapresiasi karya seseorang. Selain itu, komunitas menjadi tempat yang baik untuk mendapatkan pembaca dan memberikan masukan terhadap tulisan yang telah dibuat. Penulisan yang baik harus terbuka terhadap kritikan untuk mengembangkan skill penulisan. Dengan berbagai kritikan dan masukan bagi penulis sekiranya akan mengurangi kegagalan dalam menulis. Tentunya, harus didukung dengan komunitas. Dalam komunitas khususnya di KBM, para penulis akan melakukan otokritik terhadap semua tulisan yang di bawah ke KBM menyangkut pengaruh bahasa lisan ke tulisan, diskusi mengenai isi atau konten tulisan, menjaga stamina, ritme, dan spirit penulis dengan agenda yang rutin. Di KBM para penulis pemula terus didorong mengirim tulisannya di media dan gambaran selera redaksi setiap media.
Bagi penulis, KBM adalah pelipur lara bagi yang berduka dalam penulisan. Sebab, KBM akan senantiasa membimbing para penulis-penulis pemula untuk eksis dengan karyanya. Sebagaimana, pak Ade Ma’aruf Wirasanjaya menjadi pelipur lara bagi peserta diskusi yang menanti beberapa jam. sebab, materi yang disampaikan setara dengan penantian yang panjang itu.
Keterlambatan Ade Ma’aruf Wirasanjaya, yang sedang menada hujan adalah ikhtiar menerima hidayah dan mempersiapkan anugerah dari sang Kuasa. Hujan adalah anugerah dan hidayah tidak bisa ditolak. Tapi, harus disyukuri sebagai nikmat Tuhan. Hujan selalu menumbuhkan benih yang tenggelam di bawah tanah. Dengan hujan seluruh benih menguncup membusur langit. Hujan ibarat ilmu yang dimiliki oleh pak Ade Ma’aruf Wirasanjaya, untuk mengguyur kemarau yang sedang berkepanjangan. Ilmu yang ditadah kini menebar ke peserta diskusi, semoga bakat yang terpendam akan menguncup dan lahir sebagai harapan bangsa. Selamat hari jadi KBM, yang selalu menada Hujan di Bulan Desember satu komunitas, satu buku untuk bangsa.

Yogyakarta, 16 Desember 2015
Sampean




Sabtu, 19 Desember 2015

Puisi untuk Gus Dur


Puisi untuk Gus Dur
By : deedee demikian

Kedalaman pikirmu, tak tersentuh
Rangkaian ucapanmu, tak terduga
Menyentil...menggelitik..menginspirasi
Tapi semua menjadi nyata

Mereka belum tahu banyak
Atau malah sebenarnya mereka tak tahu apa-apa
Tapi kau sudah tahu...
Banyaknya 'tahu' mu itu...
Menyempitkan luasnya masalah
Banyaknya 'tahu' mu itu...
Menguraikan kerumitan masalah

Mereka bertanya padamu...
Jawabanmu selalu saja mudah...
" Gitu aja kok repot "

Kamis, 26 November 2015

AKU TAK MENGENAL LAGI DEFENISI RASA TAKUT

 AKU TAK MENGENAL LAGI
DEFENISI RASA TAKUT
OLEH NURWAHIDAH A.Md

            Pagi yang mendung, seperti biasanya aku terbangundengan badan yang kaku, memerah. Sebuah karpet hijau, ada princes  dan kerabatnya  tersenyum mekar memegan paku. Masih dirantau berharap di sini bisa diterimakerja, di sebuah Rumah Sakit. Semangat  yang tak pernah pupus, mengharuskan tetap bertahan. Mondar-mandir masukin berkas, dari Sangatta ke Balikpapan, dan sekarang di Samarinda. Sebenarnya aku sudah lelah, jenuh, bosan, pesimis, dan emosi.Andai saja seperti mereka. Mereka yang beruntung tamat wisuda langsung kerja. Tak  seperti diriku langsung nganggur. Tapi aku nggak malu, karena masih banyak sarjana lebih lama dariku. Lama menunggu keajaiban.

Samarinda. Sebuah kota besar yang penduduk tidak terlalu padat.Samping mesjid Islamic Center ada gang kecil nomor 10.  Dekat pohon mangga, rumah panggung yang terbuat dari kayu berwarna hijau.Catnya terkelupasdi sana-sini dimakan ketuaan. Sudah tak jelas warnanya. Jika menaiki tangga harus  pelan. Lebih pelan dari keong. Takut roboh. Rumah kosan yang hanya tiga kamar.
Kamar depan seorang lelaki lajang yang kutak tahu persis namanya. Ia kerja di kantor Bupati. Makhluk apa yang nempel di tubuhnya? Hampir setiap pagi mengantarkan sarapan. Kamar tengah masih kosong. Dan kamar ketiga adalah kamarku. Di sinilah aku masih setia. Setia memegan Handphon, hampir setiap saat ada digenggamanku. Berharap ada panggilan atau s-m-syang masuk.Eghhbukan panggilan ikut interviu melainkan pesan dari indosat. Aku kesal jadinya. Hampir setiap hari begitu. Tak ada pilihan selain sabar.
            Jika ada tawaran kerja sampingan pasti aku mau. Walaupun kerja di bengkel.Tak pernah malu selagi itu masih halal.Sering sekali Mamak memanggilku agar pulang. Beliau sangat khawatir. Apalagi aku masih perawan. Mamak takut jika terjadi hal diluar kendali. Beliau sering nonton berita yang terkait  pelecehan seksual di bawah umur.Sebenarnya aku juga takut, tapi semoga tak menjadi bagian dari mereka. Yang lebih kutakutkan jika aku mati di sini. Ya, mati kelaparan. Uang didompet tinggal limapuluh ribu.Di ATM masih ada, tapi tidak bisa ditarik. Hampir setiap hari  nggak absen beli donat. Donat coklat yang kutelan agar abdomen bisa bertahan sampai keesokan harinya.

            Berbagai alasan yang sudah kulontarkan, dan berusaha meyankinkan  kalau bulan Desember ada panggilan. Lidahku  mulai berbohong. Mungkin karena itu Allah tidak ridho  kepadaku. Sebuah hadits yang masih kusimpan dimemori kecilku. Ridho Allah tergantung dari ridho orang tua. Tapi semoga hal itu tidak tertuju padaku.
            Namaku Nidar. Perempuan yang berumur 21 tahun.Dilahirkan di desa Kindang. Meskipun anak desa tapi tidak betah tinggal di sana. Sehabis kuliah di Yogyakarta masih nekad berkelana. Sering sekali dapat siraman rohani dari kerabat. Agar bisa ubah sifatku yang nekad dan egois. Aku berusaha agar mengubah. Tapikemauan lebih kuat daripada keinginan.
            Hari ini adalah hari jumat.  Aku meringkik kepanasan, akhirnya kuputuskan ke mesjid Islamic Center. Sebuah mesjid terbesar yang pernah kujumpai. Kupajang sepatu kets warna coklat. Pemberian dari kak Chalis. Lelaki lajang yang kutemukan di Sangatta. Dia terlalu baik dan selalu setia mendengar dukaku. Lima menit jalan kaki. Keringat meleleh dibaju kaos merah. Bagian ketetnya basah kuyup. Kutaruh buritku di kramik mesjid. Mengatur napas yang tak beraturan. Badanku semakin loyo, perut pun bertasbih.  Menahan adalah hal yang sering kulakukan. Aku selalu berharap pada Tuhan, agar tetap kuat dan bertahan hidup.
            Matahari, sudah meredupkan cahayanya. Badanku sudah dingin dan damai. Aku terbaring terlentang. Kutatap keramik Mesjid, indah sekali. Seakan-akan sudah di surga Firdaus. Kupejam bola mata. Terdengar vokal, yang tak asing lagi dikupingku. Vokal yang sering kujumpai di Yogyakarta.
                        Nidar!” nada yang tak tahu persis darimana asalnya.
            Aku mulai bingung. Dan pura-pura tak menghiraukan. Nada itu masih terulang. Semakin nyaring.“Sial orang tidur di ganggu.” Dalam benakku. Ah sudahlah sebaiknya aku bangun, sepertinya dia butuh bantuan.
            Sosok yang mamasan baju kokoh putih. Duduk bersila dekat bilik. Tak nampak rautnya. Detak jangtungku tak berdenyut lagi. Mengingatkan pahlawan yang pernah hadir. “Bapak?” Ucapku. Namun, ia tetap bungkam. Mataku mulai berkaca-kaca, ingus bisa kurasakan asingya. Tak sempat melap. Tapi aku memilih bersandar dipilar.
            Bapak sudah tutup usia, tujuh tahun yang lalu. Lah kok bisa nongol di sini?” Ucapku.
                   “Aku membawakanmu makanan.” Ujarnya, pelan. Memutar badannya ke arahku.

            Kutelan air ludah berulang kali. Apakah Tuhan menghidupkan orang yang sudah mati?. Apapun yang terjadi di dunia ini kalau dihendaki pasti terjadi. Kujawab pertanyaan yang seharusnya kutahu jawabannya. Sedikit takut dan heran.Tapi aku bahagia bisa melihatnya. Setidaknya Bapak datang menambal lukaku.
                   “Kamu naik apa kemari Nak?” Tanya Bapak.                       
                   “Jalan kaki.” Jawabku, sambari membuka kotak yang ia bawa.
                   “Kamu terlalu berani.”
                   Apa ini buatan Bapak?” Aku mendesak.
           Bapak hanya mengangguk kecil. Menatap busana yang kupake. Saat aku mengunyah makananku begitu lahap. Bapak berkata.” Bapak, mengkhawatirkanmu.” Sontak aku menghentikan makan dan berhenti mengunyah.
                   Masih saperti kemarin. Tak ada yang berubah. Masih nekad. Bapak senang                                karena kamu berani. Semoga kamu bisa menggantikan Bapak sebagai pahlawan.            Ujar Bbapak, ia mengupas senyum. Aku pun semakin semangat, mendengar kata                           pahlawan.
                   “Tapi, aku masih takut. Takut dengan kesepian. Tak ada kerabat di sini.” Ucapku                          melemah.
            Kotak nasi, dipenuhi air bening. Sudah nggak mood mengunyah. Aku pengen bersandar dipundaknya. Membagi cerita.
                   Sudahlah. Bapak paham dengan kondisimu sekarang Nak. Bapak tak mau melihat                      selalu ada duka diranting jiwamu. Berjuanglah di sini. Jangan pulang kalo belum                          sukses. Takut adalah awal dari kata gagal.” Ucap Bapak. Wajah simpati.
            Aku hanya tunduk, mengigit bibir atas. Keheningan terjadi satu menit. Aku masih menunggu nasehat. Namun, hanya suara adzan yang kudengar. “Allahuakbar Allahu Akbar.”
Aku tersentak bangun dari lantai mesjid. Badanku semakin dingin. Aku mencari Bapak, kuputar lehar ke kanan. Ada mahasiswi baca buku. Kuputar lagi ke kiri. Rombongan anak yatim menuju tempat wudhu. Bola mata tetap mencari Bapak yang tiba-tiba menghilang.Tanganku berkeringat, akupun mencari kotak nasi.  Benar tidak ada. Ternyata hanya mimpi. Mungkin Bapak datang hanya simpati kepadaku. Biar aku tidak takut.