Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Februari 2013

Menyambut Kemenangan Kedua Obama



Menyambut Kemenangan Kedua Obama
Ahmad Sahide
            Pada tanggal 6 November kemarin, tepatnya 7 November untuk waktu Indonesia, barangkali milyaran pasangan mata seantero dunia tertuju pada Amerika Serikat. Mereka menyaksikan dan ingin memastikan siapa pilihan rakyat Amerika empat tahun ke depan. Pemimpin negeri Paman Sam tersebut sekaligus menjadi pemimpin dunia. Bagi yang menyaksikan detik-detik penghitungan suara (electoral votes), terlepas ia berpihak pada presiden petahana Barack Obama ataupun Mitt Romney, pasti dijangkiti ketegangan tingkat tinggi. Hal itu karena ketatnya persaingan kedua kandidat, bahkan disebut-sebut sebagai persaingan yang terketat selama  pesta daur ulang demokrasi negara adi daya tersebut.
            Obama, presiden berkulit hitam pertama, akhirnya kembali memenangi persaingan menuju Gedung Putih dengan perolehan 303 suara  electoral votes, sedangkan Romney hanya memperoleh 206 suara  electoral votes (Kompas, 8/11/2012). Hari itu, Selasa 6 November waktu Amerika Serikat, tentu adalah akhir dari masa-masa ketegangan yang dialami Obama. Obama, setidaknya, bisa merasakan kelegaan karena tidak dipermalukan oleh Romney, saingan beratnya.

Catatan Untuk Kemenangan Obama

Kemenangan Obama kali ini menghadirkan beberapa catatan politik untuk kita semua. Pertama, kemenangan Obama kali ini tidak seperti kemenangan yang diraihnya empat tahun lalu (2008). Pada saat itu, jauh sebelum hari pemungutan suara, sudah dipastikan bahwa Obama akan memenangi pemilihan presiden AS. Hal itu karena kehadiran Obama yang dilihat seolah sebagai ‘Ratu Adil” sejagat yang diutus Tuhan di tanah Amerika. Hal itu terbukti dengan kemenangan telak Obama yang memperoleh 365 suara electoral votes, sedangkan pesaingnya, John McCain hanya memperoleh 173 suara electoral votes. Pada saat itu Obama sangat leluasa (tanpa ketegangan) menari di atas panggung politik negara adidaya tersebut. Pada saat itu, dunia juga menyambut Obama dengan meriah, seolah seluruh dunia terkena sindrom ‘Obamamia.’ Obama dilihatnya sebagai politisi dengan hati Malaikat, tidak bercacat, ma’shum dalam istilah politik Syi’ah.
Kedua, kemenangan Obama kali ini tidak disambut dan sedominan sebagaimana yang terjadi pada 2008 lalu. Obama, Demokrat, dan para pendukungnya masih dihantui ketegangan sampai menit-menit akhir penghitungan suara electoral votes. Juga, jika dilihat perolehan suara populer votes, Obama kehilangan hampir 20 juta suara pemilih. Pada tahun 2008, Obama memperoleh 69.498.215 juta suara dan McCain hanya memperoleh 59.897.882 juta suara. Dalam pemilihan 6 November kali ini, Obama hanya memperoleh 41.897.882 juta suara, kalah populer dari Mitt Romney yang mengumpulkan 42.620.788 juta suata (Kompas, 8/11/2012).Hal ini menunjukkan bahwa Obama tidak lagi dilihat sebagai politisi  ma’shum, baik oleh rakyatnya sendiri maupun oleh dunia internasional.  Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Obama dalam mengeksekusi program kerjanya sebab ia akan memimpin dengan kepercayaan yang mulai tergerus dan juga akan berkelana ke seantero dunia dengan menemui tatapan mata serta salaman yang diselipkan kecurigaan.
Sambutan yang merosot, krisis kepercayaan, dan kecurigaan hadir dengan alasan yang logis. Empat tahun memimpin Amerika dan dunia, Obama tidak mampu memenuhi ekspektasi publik dunia internasional dalam menghadirkan politik Amerika dengan representasi wajah yang berbeda dari wajah-wajah Amerika sebelumnya. Amerika, di bawah Obama, memang tidak seagresif serta sesewenang-wenang dengan Amerika di era George W. Bush, tetapi wajah koloni masih nampak dari bendera Amerika yang berkibar di seluruh dunia. Obama nampaknya kesulitan menghapus wajah tersebut. Namun demikian, setidaknya Obama lebih baik dan dunia lebih tenang daripada Romney. Begitulah suara hati dunia internasional menyambut kemenangan Obama untuk yang kedua kalinya tersebut.
Catatan ketiga adalah napak tilas jejak Amerika di kawasan Timur Tengah. Pasca-Perang Dunia (PD) II, politik luar negeri Amerika selalu berjejak di kawasan kaya minyak tersebut. Bahkan Israel, selama ini, selalu dilihat sebagai salah satu negara bagian Amerika Serikat yang secara geografis berada di kawasan Timur Tengah. Di bawah Obama, hubungan AS-Israel berbeda. Beberapa kali muncul ketegangan. Obama pernah menolak PM Israel Benjamin Netanyahu bertemu di Gedung Putih. Tamparan keras untuk Israel dan kelompok Yahudi AS tentunya. Namun, Obama juga tidak mampu ‘mengontrol’ keliaran Israel dalam urusannya dengan Palestina. Padahal, sambutan dunia, terutama dari dunia Islam, pada tahun 2008 karena Obama dianggap bisa menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Ekspektasi publik yang tidak mampu dipenuhi Obama.
Pragmatisme politik membuat Obama inkosisten dalam urusan Timur Tengah, terutama Israel-Palestina. Obama yang semula keras terhadap Israel dan kelompok Yahudi, berlahan-lahan lunak dan kompromi dengan Israel karena takut kehilangan jabatannya. Kita tahu bahwa lobi Yahudi dalam Israel Public Affairs Committe (AIPAC) sangat kuat ‘mencengkeram’ politik Amerika Serikat. Boleh jadi salah satu faktor kalah populernya Obama dari Romney karena AIPAC bermain karena ia beberapa kali berani bermain-main dengan Israel, sehingga Obama terancam kehilangan jabatannya 6 November kemarin.
Kini pragmatisme politik tidak lagi kuat menghantui Obama. Tidak ada lagi ketakutan kehilangan jabatan untuk 2016 sebab konstitusi sudah melarangnya untuk maju sebagai calon presiden. Oleh karena itu, mari kita berharap bahwa masa jabatan Obama yang kedua ini, tanpa ketakutan kehilangan jabatan lagi, menjadi kekuatan politik Obama menekan Israel utuk tidak selalu bertindak sewenang-wenang terhadap Palestina. Rekaman politik mencatat bahwa inkosistensi Obama, yang semula keras kemudian lembut pada Israel, karena ia masih berharap berada di Gedung Putih sampai 2016 mendatang. Kini pragmatisme itu dapat dihindari oleh Obama. Semoga ia mempertanggung-jawabkan hadiah Nobel Perdamaian yang telah diterimanya dengan menyelesaikan konflik Israel-Palestina sebelum meninggalkan Gedung Putih 2016 nanti. Time will tell!
Ahmad Sahide
Mahasiswa Program Doktor
 Kajian Timur Tengah
Sekolah Pascasarjana, UGM
Alamat                        : Jl. Nitipuran no. 313 A, Ngestiharjo, Bantul, Yogyakarta
Nomor kontak: 085292039650



Sabtu, 29 September 2012

Pesan Dari Teheran

Pesan Dari Teheran
Ahmad Sahide
            Barangkali Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dan Menteri Luar Negerinya (Menlu) Hillary Clinton beserta jajarannya di Gedung Putih adalah orang yang tidak bisa tidur dengan nyanyak menjelang dan pada saat berlangsunnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Nonblok (GNB), yang beranggotakan 120 negara berkembang, yang berlangsung pada tanggal 30-31 Agustus 2012 kemarin. 

            Berkumpulnya lebih dari seratus pemimpin negara di dunia ini menggelisahkan Obama karena ibu kota Teheran menjadi tuan rumah. Para pemimpin dunia berkumpul untuk membahas isu dan agenda politik global di negara yang sejak tahun 1979, sejak revolusi Islam Iran meledak, menjadi musuh bebuyutan para penghuni Gedung Putih. Bahkan AS tidak henti-hentinya melakukan berbagai macam cara untuk mengisolasi Iran dari pergaulan internasional, baik itu dengan mendorong negara-negara lain untuk mengembargo ekonomi Iran maupun dengan mengangkat isu-isu yang memojokkan Iran (isu Hak Asasi Manusia dan lain sebagainya). Kini, di tengah kegencaran upaya Gedung Putih mengisolasi Iran, justru para pemimpin dunia berkumpul di Teheran membahas isu dan agenda politik global. Apa pesan yang tersampaikan dari momentum ini untuk dunia dan penghuni Gedung Putih?

Pesan dari KTT GNB

            Forum ini yang dihadiri oleh 120 negara anggota dan 17 negara pengamat serta 10 organisasi pengamat (Kompas, 30/08/12) memang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh penghuni Gedung Putih, terutama Obama, karena lebih dari separuh kekuatan politik dunia berkumpul, salah satunya China yang hadir sebagai negara pengamat. Lebih dari itu, salah satu wacana yang berkembang dari forum ini adalah penguatan GNB dalam kancah politik global serta reformasi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Hal ini diakui oleh Menlu RI Marty Natalegawa bahwa ada wacana yang berkembang untuk mengubah tatanan dunia (Kompas, 30/08/12). Jika tatanan dunia dirubah, yang diamini oleh 120 negara di dunia, itu artinya mengusik kekuasaan dan dominasi Amerika Serikat sebagai negara superpower. Inilah isi pesan pertama yang menggelisahkan Obama, Hillary Clinton, dari forum KTT GNB di Teheran tahun ini. 

            Pesan kedua yang mengusik Obama dari Teheran adalah forum ini tentu dimanfaatkan dengan baik oleh pihak Teheran untuk menggugat kesewenang-wenangan Gedung Putih terhadap Teheran. Pihak Teheran mendapatkan tempat, diperkuat dengan posisinya sebagai tuan rumah, untuk mempengaruhi mindset para pemimpin yang berkumpul untuk melawan dan menggugat logika-logika yang dibangun oleh AS selama ini dalam mengisolasi Iran. Keseriusan Iran dalam memanfaatkan momentum ini terlihat dengan turunnya sang Imam yang ma’shum (tak bercacat), Ayatollah Ali Khamenei, berpidato melawan hegemoni AS. 

            Ayatollah Ali Khamenei dalam pidatonya mengecam AS dengan isu hak asasi manusianya dimana kepentingan Barat mengekor padanya dan bicara demokrasi untuk mengintervensi negara-negara berkembang (Kompas, 01/09/12) seperti yang nampak jelas di negara-negara kawasan Timur Tengah saat ini. Apabila Iran berhasil memanfaatkan momentum ini dengan baik, maka uang yang digelontorkan oleh pihak Gedung Putih selama ini untuk mengisolasi Iran dari pergaulan dunia sepertinya akan terbuang sia-sia. 

Pesan itu terbaca dengan sangat jelas di mata Obama dan koleganya tentunya. Dan bukannya mengisolasi Iran, justru Amerika yang memiliki kemungkinan untuk diisolasi. Iran semakin tidak tergoyahkan posisi politiknya, dan pada saat yang bersamaan muncul wacana mengubah tatanan dunia yang kini mulai menjadi kesadaran bersama, setidaknya 120 negara anggota Gerakan Nonblok, bahwa tatanan dunia yang lama sudah tidak representatif lagi, bahkan melanggengkan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan Barat, terutama Amerika Serikat. Pembahasan itu hadir dalam forum di mana Amerika tidak hadir di dalamnya, walaupun hanya sebagai negara pengamat, sebaliknya China yang menjadi rival kuat Amerika hadir sebagai negara pengamat. 

Inilah pesan dari Teheran yang mengganggu tidur nyenyak Obama di dalam Gedung Putih yang disakralkan itu. Tempat yang konon hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang ‘dipilih oleh Tuhan’. Bukankah demokrasi Barat mengamini bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan?
Ahmad Sahide
Mahasiswa Program Doktor
Kajian Timur Tengah
Sekolah Pascasarjana UGM
Yogyakarta, 1 September 2012
Alamat                        : Jl. Nitipuran no. 313 A, Ngestiharjo, Bantul, Yogyakarta
Email               : ahmadsahide@yahoo.com
Nomor kontak: 085292039650

Selasa, 03 April 2012

BBM, Demonstrasi, dan Banalitas Politik

            Kurang lebih satu minggu menjelang rapat Paripuran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dalam hal kenaikan harga Bahan bakar Minyak (BBM), Indonesia, di berbagai kota-kota besar, diwarnai dengan gerakan demonstrasi, terutama dari kalangan pergerakan mahasiswa. Hampir setiap hari kita disuguhi berita utama mengenai demonstrasi penolakan rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai satu April kemarin. BBM pun menjadi menu obrolan setiap hari dari semua kalangan masyarakat, mulai dari masyarakat pada tingkatan bawah sampai pada tingkatan elite. 

Senin, 05 Maret 2012

Anas; Lonceng 'Kematian' Politiknya

Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat, sejak pertengahan tahun lalu sampai sekarang selalu menjadi bulan-bulanan media. Anas Urbaningrum menjadi sorotan media setelah mantan Bendahara Umumnya di Partai Demokrat (PD), M. Nazaruddin, menyebut adanya aliran dana ‘pelicin’ yang mengalir pada dirinya dari beberapa proyek, seperti proyek pembangunan Wisma Atlet SEA Games di Palembang serta pembangunan kompleks olahraga di Hambalang. Mindo Rosalina Manulang, Direktur Marketing PT Anak Negeri, perusahaan M. Nazaruddin, juga berkali-kali menyebut nama Anas dalam persidangan. 

Selasa, 17 Januari 2012

“Lokal” versus “Pusat” dalam Sastra Riau

Darwin
Sastrawan Raudal Tanjung Banua dalam diskusi yang ditaja Komunitas Gubuk Indonesia (KGI) Yogyakarta, hari Senin malam (9/1) lalu, di Yogyakarta, membagi dua kecenderungan sastra di Indonesia saat ini. Pertama, adalah sastra mainstream yang mengedepankan publikasi dan jaringan, yang diakomodir media massa (khususnya koran) nasional. Sastra jenis ini menurut Raudal, terkadang abai dengan kualitas estetik. Kedua, adalah sastra “bawah tanah”. Sastra jenis ini kental nuansa lokalitasnya (berlawanan dengan pusat), “anti-publikasi”, dan peduli realitas (sastra bertendens). Sastra jenis ini terejawantahkan dalam komunitas-komunitas sastra yang bertebaran di berbagai daerah di Tanah Air, salah satu yang dicontohkan Raudal adalah di Riau sendiri. Di mana Taufik Ikram Jamil dkk. dengan “kefanatikan”-nya dengan Riau selalu mencoba melawan “pusat” dengan bahasa yang khas Riau.

MASA DEPAN IRAK

Ahmad Sahide
             Bagi Irak, pergantian tahun dari 2011 ke 2012 haruslah dimaknai sebagai tahun di mana negara itu harus bisa menentukan masa depannya sendiri. Hal ini ditandai pada acara penutupan misi militer Amerika Serikat (AS), yang sudah berlangsung selama 8 tahun 8 bulan dan 26 hari, di Baghdad pada tanggal 15 Desember lalu (Kompas, 16/12/2011). Perang Amerika di Irak pun akan berakhir yang menewaskan 113.493 warga sipil dan 4.801 pasukan koalisi. Perang yang dimulai sejak tahun 2003 lalu, di mana pada saat itu Amerika dipimpin oleh George Walker Bush, yang membawa misi menggulingkan rezim Saddam Hussein serta memusnahkan senjata pemusnah massalnya. 

Selasa, 01 November 2011

Musik mencipta peradaban

Musik mencipta peradaban
Oleh Darwin
“Ciptaanku ini bukanlah untukmu, tetapi untuk masa sesudahmu”-Ludwig van Beethoven-(Michael H. Hart, 2005)
Musik adalah salah satu seni yang selalu menemani, berkaitkelindan, bahkan mencipta peradaban umat manusia hingga hari ini. Ia hadir sebagai sarana mengekspresikan diri sekaligus menghibur. Dari sisi komunikasi, ia hadir sebagai penyampai pesan dari sang komunikator (pencipta lagu, penyanyi, dan produser) kepada komunikan (penikmat lagu/konsumen). Musik juga hadir di muka bumi sebagai media kritik bagi penguasa yang sewenang-wenang menjalankan kekuasaannya.

Kamis, 14 Juli 2011

TKI DILINDUNGI ATAU PEMERINTAH BERLINDUNG ?

Kata-kata berbisa
Mulut-mulut berbisa
Janji-janji bertebaran
Seperti biasa dari atas panggung atas nama bangsa
Yang mendengar terpesona
Bahkan ada yang terkesima
Akupun tergoda untuk mengikuti apa yang terjadi
Apakah memang janji hanya janji
Buktikan…buktikan…itu yang dinanti-nanti
Buktikan…buktikan…kalau hanya omongan burung beo pun bisa..

Syair lagu yang didendangkan oleh sang legenda Iwan Fals mampu memberikan kritik  keras atas pidato Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tanggal 14 Juni 2011 dihadapan para peserta Konfrensi International Labour Organization (ILO), Jenewa, Swiss. ILO memberikan kesempatan kepada Presiden Republik Indonesia SBY karena Indonesia merupakan salah satu negara yang berhasil meratifikasi Undang-Undang Buruh Migran, pada saat itu juga pidato Presiden Republik Indonesia disambut standing applause karena Presiden SBY mengatakan bahwa di Indonesia memiliki mekanisme perlindungan terhadap Pembantu Rumah Tangga (PRT) migrant Indonesia sudah berjalan, tersedia institusi dan regulasinya.

Tentu saja pidato Presiden itu menyejukkan hati dan menjanjikan sehingga disambut dengan tepuk tangan gegap gempita. Akan tetapi apa yang terjadi, buaian pidato tersebut tiba-tiba lenyap seketika ditelan bumi ketika tersebar kabar keseluruh penjuru nusantara dan dunia bahwa ada Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Ruyati binti Satubi (54) asal kampung Ceger, Sukatani, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat yang bekerja sebagai PRT di Arab Saudi dihukum mati dengan cara dipancung oleh Pengadilan Arab Saudi dan pemerintah Indonesia tidak mengetahui hal itu. Tragedi Ruyati semakin mempertegas fakta bahwa perlindungan buruh migrant/TKI hanya manis dalam pidato dan hanya pemanis di tengah-tengah upaya membangun politik pencitraan SBY di mata dunia.
 
Tragedi TKI kembali terulang dan setiap kali terjadi pemerintah terlihat  kurang tanggap terhadap masalah yang terjadi, jika harus memutar kembali jejak rekam tragedi TKI di luar negeri, pemerintah Indonesia selalu terlihat gagap atau bahkan tidak mampu belajar dari pengalaman yang ada, paling tragis adalah, ketika TKI sudah mengalami cedara atau kepalanya sudah terluka, bibirnya sudah dijahit dan punggungnya sudah disterika atau sudah menjadi jenazah baru pemerintah bergerak, ada yang mengunjunginya di luar negeri atau bahkan mengirim ucapan keprihatinan atau bela sungkawa melalui staff yang dipercaya untuk menyampaikannya kepada keluarga atau kepada masyarakat umum lewat konfrensi pers, hal ini merupakan wujud tanggung jawab moril dari pemerintah. Apakah itu yang diinginkan oleh para TKI di luar negeri? Tentu saja tidak, mencari dan mengenali akar permasalahan yang terjadi harus disegerakan oleh pemerintah guna mencari problem solving-nya, namun jika hal tersebut tidak dilakukan juga, maka wajar jika masyarakat akan terus bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi dan bagaimana upaya apa pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada TKI di luar negeri ?

MENCURI PINTU-PINTU TUHAN

Ketika semua orang sibuk kampanye tentang pencitraan diri, kekuasaan dan kehormatan semu, popularitas, maka, timbullah problematika sosial yang akan menggerogoti sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Mungkin ada sebagian orang, yang memandang prilaku dan perbuatan di atas merupakan hal yang biasa (lumrah) dilakukan oleh para pemimpin kita. Tetapi sadar atau tidak, hal itu membuat kita terjebak pada perbuatan yang tak sepatutnya kita lakukan. Misalnya, kita menerjang rambu-rambu norma agama, adat-istiadat dan fitnah-memfitnah demi menyelamatkan diri menjadi tuntunan.

Tentu masih segar dalam ingatan kita, hampir semua media cetak dan elektronik, menyuguhkan berita tentang Siami dan Alif yang komitmen pada kejujuran dan berani melewati arus. Masalah terjadi, ketika mereka melaporkan kecurangan yang dilakukan secara berjamaah di sekolah SDN Gandel II Surabaya, baik oleh guru dan orang tua murid terkait contek massal ujian nasional. Bukannya kesadaran yang merasuk ke hati mereka, tetapi kemarahan yang diluapkan dengan berdemo dan pengusiran keluarga Siami oleh penduduk setempat. Sangat ironis melihat kondisi tersebut, namun apakah kita akan terus mengeluh, mengumpat dan terdiam tanpa berbuat sesuatu untuk mencuri pintu-pintu Tuhan kembali?

SAYAP-SAYAP CINTA ALENIA!

Entah apa yang membuat aku sangat menyukai dan jatuh cinta, akan sosok Alenia. Allahku, betapa irinya aku melihat Alenia, luar biasa dan kalian bak melati yang tumbuh di hutan belantara, putihmu dan harummu menyebar ke angkasa dan bermuara ke langit. Kalian, manusia satu dari seribu yang lahir di zaman yang penuh ketidakpastian, hukum rimba yang menjalar di ruang publik dan budaya saling memakan bangsa sendiri demi kepuasaan nafsu syaitan semata menjadi pemandangan biasa. Kala manusia lain, berlomba meraup uang dengan cara menggunakan segala cara, menjual dan mengkhianati idealisme sendiri. Kalian datang bak Nabi, Dewa, Sufi,  yang selalu siap menyelamatkan tunas-tunas bangsa, tanpa diminta demi merebut hak dan mampu bertanggungjawab atas apa yang seharusnya diperbuat.

Alenia, kalian berhasil menggugah dan mendorong kesadaran sebagian orang yang cinta akan nasib anak-anak pinggiran, anak bangsa tanpa melihat agama dan ras, dan si miskin papa. Kalian mengkritik sekaligus memberikan solusi pada pemerintah, mereka yang mengaku beragama dengan cara yang elegan. Tontonan yang menuntun kesadaran untuk berjalan ke masa depan yang lebih gemilang dan menjadi manusia yang merdeka. Film yang kalian lemparkan ke publik mengandung unsur-unsur pendidikan, kejujuran, toleransi, bagaimana trik memberi kebebasan untuk menentukan bakat sendiri tanpa mengurui, melestarikan budaya setempat yang hampir punah karena ditinggalkan generasinya dan lain sebagainya.  

Memusiumkan Secarik Pengalaman Dengan Tulisan

Membaca tulisan adik-adik dari As-Adiyah, yang tidak lama lagi akan melepaskan seragam almamaternya pada tingkat Madrasah Aliyah (MA), seakan membawa saya ke dunia sebelas tahun yang lalu, masa-masa ketika saya juga tercatat sebagai santri dari pondok ini. Dari tulisan-tulisan yang menceritakan perjalanan hidupnya sebagai santri pondok pesantren As-Adiyah, saya mendapat gambaran dan tentu dapat memahami dunia anak SMA. Dunia yang penuh dengan dinamika persahabatan, permusuhan, dan percintaan anak SMA. Itulah yang diceritakan oleh adik-adik ‘binaan’ dari buku kecil ini yang mereka tuangkan dengan tulus, tidak menutupi sesuatu yang mungkin bagi orang lain tabu untuk dijadikan konsumsi publik. Ada kejujuran bagi mereka dalam menulis. Hemat saya, mereka mencoba menulis apa yang dialami dan dirasakannya. Mereka mencoba memusiumkan secarik pengalamannya dalam hidup. Di hari tua nanti, ini akan sangat bermakna.

Saya tidak akan mengomentari isi dan redaksi dari penulisan buku kecil ini, tapi sebagai alumni As-Adiyah dan orang yang bergelut dalam dunia tulis-menulis, saya sangat mengapresiasi adanya kemauan, kepercayaan, serta kemampuan dari adik-adik untuk menceritakan secara singkat perjalanan hdupnya di As-Adiyah selama tiga atau enam tahun. Terkadang kita bisa mengingat-ingat peristiwa yang terjadi dalam hidup selama bertahun-tahun, tetapi, bagi banyak orang, sangat sulit untuk menuangkannya atau membahasakannya dalam bentuk teks. 

Demokrat Yang Tergerus

Wacana reshuffle (perombakan) kabinet kembali bergulir dan mengakibatkan suhu politik tanah air sedikit memanas. Semua berawal dari sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang membahas hak Angket Pajak pada tanggal 22 Februari lalu. Dalam sidang ini, keputusan diambil melalui voting, dan kubu Partai Demokrat, yang menolak pembentukan panitia khusus Hak Angket Pajak, keluar sebagai pemenang, meskipun tipis. Demokrat berhasil mengumpulkan suara 266 suara, unggul dua angka dari kubu yang dibangun oleh Partai Golkar, 264 suara. Demokrat membangun koalisi dengan Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Adapun Golkar berdiri bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) mendukung pembentukan panitia khusus Hak Angket Pajak.

Senin, 13 Juni 2011

Semangat Kebangsaan Pak Habibie

Kamis, 26 Mei 2011, saya menghadiri ‘Presidential Lecturer” di Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada. Acara ini merupakan salah satu rangkaian dari Dies Natalis ke-62 UGM dan ke-30 Sekolah Pascasarjana UGM. Yang membuat saya merasa bahwa peristiwa ini tidak bisa terlewatkan adalah karena menghadirkan Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie, Presiden ketiga Republik Indonesia, sebagai narasumbernya. Saya sebagai pengagum dari Pak Habibie seolah kurang sempurna bila belum pernah melihatnya dari dekat secara langsung. Pak Habibie selama ini saya kenal hanya dari media-media, terutama televisi. Maka pada hari Kamis, dua hari yang lalu itulah, saya bisa melihat dari jarak yang dekat mantan orang nomor satu di Indonesia tersebut, sekalipun tidak sempat menyalami tangannya.
    

Selasa, 07 Juni 2011

Ideologi Di Balik Sebuah Film

Jerman ingin memimpin dunia pada dekade tahun 30-an di bawah pimpinan sang diktator yang jago beretorika, Adolf Hitler. Jerman ketika itu bisalah disamakan dengan negara super angkuh Amerika Serikat hari ini yang selalu menginginkan negara lain berada satu tingkat di bawah mereka. Jerman ingin menjadi negara nomor satu ketika itu tidak bisa lepas dari Hitler dengan NAZI-nya. Dan, yang menarik, media yang digunakan oleh Hitler untuk mewujudkan keinginannya tersebut salah satunya adalah media massa: film. Melalui film, Hitler bisa menyampaikan pesan-pesan propaganda kepada rakyatnya bahwa, Jermanlah yang paling unggul saat itu.

Memang, media film selalu digunakan oleh para penguasa sebuah negara untuk melanggengkan kekuasaannya. Di Indonesia, presiden Soeharto yang bercokol di kursi nomor satu selama 32 tahun juga menggunakan film sebagai alat doktrinasi ideologi pemerintahannya. Kita tahu, dulu setiap tanggal 30 September, kita selalu disuguhi tayangan film 30 September/PKI. Film ini menjadi alat legitimasi bagi pemerintahan Soeharto untuk menumpas siapa pun yang dianggap terlibat organisasi ini. Selain itu, di film ini digambarkan jasa besar Soeharto dalam penumpasan Gerakan 30 September/PKI.
Dari sini, bisa kita tarik kesimpulan, bahwa film tidak hanya sekadar media hiburan. Di balik sebuah film ada ideologi yang bermain. Baik itu ideologi kekuasaan yang memanfaatkan sebuah film sebagai alat legitimasi kekuasaannya dalam rangka meninabobokan rakyatnya, maupun ideologi sebuah negara yang “dipaksakan” kepada para pembuat film untuk membuat negara lain selalu berada pada posisi nomor dua dalam tatanan pergaulan internasional.

Ideologi yang dipaksakan kepada negara luar terjadi dalam film-film Hollywood. Ideologi tersebut tidak lain adalah ideologi negara adikuasa Amerika Serikat di mana Hollywood berada. Kepentingan AS hampir selalu terakomodir dari film-film produksi Hollywood. Dan ironisnya, kepentingan itu biasanya selalu menganggap orang lain pada posisi nomor dua. Bahkan, tidak hanya sekadar penomorduaan, tapi ada stereotip yang dibangun.
Yang paling sering kita lihat dari film-film Hollywood biasanya adalah penonjolan apa yang disebut WASP (White Anglo-Saxon Protestan). Di mana yang berkulit putih, ras Anglo-saxon, dan agama Protestan selalu dianggap terbaik dibanding yang lain sebagai oposisi binernya, seperti kulit hitam, bangsa non-Amerika dan agama Islam, misalnya. Hampir di setiap film Hollywood yang menjadi pahlawan biasanya adalah yang berkulit putih, bangsa Amerika dan beragama Protestan. Di sini juga ada stereotip yang dibangun, yang bukan WASP, dianggap nomor dua, terbelakang, bikin masalah, dan stereotip-stereotip lainnya.

Representasi orang berkulit hitam dan beragama Islam juga selalu digambarkan secara parsial. Dalam film-film Hollywood ras kulit hitam selalu diidentikkan dengan kemiskinan, bikin onar dan lain sebaginya. Begitu juga dengan orang Islam yang selalu dianggap suka kekerasan, dianggap teroris dan berbagai stereotip lainnya. Negara-negara dunia ketiga juga mendapat stereotip jelek, di mana dianggap sebagai negara terbelakang, miskin, dan tidak beradab.

KASIH SAYANG ORANGTUA PILAR MENUJU SUKSES SI ANAK

Berbicara masalah pendidikan anak sangatlah menarik dan sekaligus mengusik semua pihak. Hal ini terkait dengan sebagian besar orangtua yang sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan masyarakat sosial lainnya. Meskipun di sisi lain, ada sebagian orangtua  yang mampu memberikan perhatian dan kasih-sayang pada anak-anaknya. Kesibukan orangtua di luar rumah, membuat anak-anak kehilangan figur atau teladan, sehingga anak-anak cenderung bersikap tertutup,  menghabiskan waktu dengan benda-benda tidak bergerak (TV, laptop, dan lain-lain), dan yang lebih menyedihkan, anak-anak kesulitan berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Selain itu, anak juga menjadi pemalas, nakal, tidak memiliki sopan-santun dan suka main perintah sambil teriak-teriak.

Persoalan tersebut terjadi karena tidak adanya konsep, dan format yang jelas serta sebagian orangtua minim sekali dalam memahami bakat dan minat si anak, karakter  dan cita-citanya.
Melihat realita seperti itu, tergugahlah sebagian orang yang peduli terhadap nasib generasi penerus bangsa dan merasa bertanggungjawab. Sehingga mereka terus berupaya mencari akar permasalahan tentang penyebab kenakalan mereka dan sekaligus memberikan solusinya. Di antara mereka seperti : Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang khusus menangani masalah pendidikan generasi muda, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNASHAM) perlindungan anak. Untuk itu, mereka menyelenggarakan seminar dan penyuluhan tentang bagaimana format  dan konsep pendidikan anak berbasis kasih-sayang orangtua sebagai pilar keberhasilan anak.

Renungan-Renungan Akhir Tahun

Dipenghujung malam tahun baru, tepatnya Jum’at 31 Desember 2010 pukul 22.00 WIB, ruas jalan menuju Malioboro dan sekitarnya telah dipadati oleh masyarakat Yogyakarta yang ingin menikmati prosesi terjadinya pergantian tahun tersebut. Tidak hanya dari kalangan orang dewasa, orang tua, bahkan dari kalangan anak-anak pun berlimpah ruah di jalan-jalan. Mereka datang dari segala penjuru dan menggunakan berbagai jenis kendaraan baik itu, mobil, sepeda motor hingga sepeda Ontel pun turut mewarnai prosesi malam pergantian tahun tersebut. Harapan demi harapan tersimpan dalam benak masyarakat. Namun pastinya, sebuah harapan yang sangat besar dan keinginan datangnya sebuah keajaiban yang turun dari langit mewarnai tahun berikutnya (2011) dan menghapus segala penderitaan yang telah terjadi ditahun-tahun sebelumnya.

Ketika kita sedikit flashback ditahun 2010, permasalahan demi permasalahan melanda bangsa ini. Mulai dari bencana alam, seperti banjir di Wasior Papua, Gempa Bumi dan Tsunami di Mentawai, Letusan Gunung Merapi di Yogyakarta, letusan Gunung Bromo di Jawa Timur dan yang lainnya hingga bencana yang paling mengerikan yakni hilanganya moralitas dan akhlak oleh para pengambil kebijakan yang mengatasnamakan rakyat demi mendapatkan keuntungan. Hilangnya moralitas pemimpin bangsa kita dapat dilihat dari kasus, Bank Century, Mafia Pajak, Komisi Pemberantasan Korupsi, (KPK), Rancangan pengesahan Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta dan masih banyak lagi kasus lainnya. Dan ironisnya semua dari kasus ini, hingga saat ini belum juga mendapat kejelasan.

Audisi Jaksa Agung

Cobaan demi cobaan sedang dihadapkan pada bangsa yang merdeka pada tanggal 17 agustus tahun 1945 dan banyak hal yang terjadi pada bangsa yang berazaskan Pancasila ini yang sampai sekarang masih menjunjung tinggi asaz tersebut, mulai dari rezim yang pertama yaitu Presiden Soekarno atau seringkali dipanggil Bung Karno kemudian di era demokrasi terpimpin yang dipimpin oleh bapak pembangunan kita yaitu presiden Soeharto hingga sampai sekarang di era reformasi yang dinanti nantikan oleh seluruh masyarakat indonesia. Dimulai dengan tragedi 1998 yang menggemparkan bangsa ini dimana chaos (kekacauan) saat itu benar benar terjadi serentak hampir di seluruh daerah di indonesia dan memberikan efek traumatis pada pemerintahan dan masyarakat saat itu. Perjuangan seluruh elemen masyarakat, aktivis dan dari kaum pelajar yang menentang kepemimpinan Soeharto dan kemauan untuk membawa kembali nilai-nilai demokrasi yang sebelumnya sudah tidak murni lagi. Dengan terkuaknya kasus korupsi yang melibatkan kepala pemerintahan Soeharto, masyarakat mulai didera trauma yang begitu hebat sehingga hilangnya kepercayaan masyarakat akan pemerintah.

Renungan Akhir Tahun

Dipenghujung malam tahun baru, tepatnya Jum’at 31 Desember 2010 pukul 22.00 WIB, ruas jalan menuju Malioboro dan sekitarnya telah dipadati oleh masyarakat Yogyakarta yang ingin menikmati prosesi terjadinya pergantian tahun tersebut. Tidak hanya dari kalangan orang dewasa, orang tua, bahkan dari kalangan anak-anak pun berlimpah ruah di jalan-jalan. Mereka datang dari segala penjuru dan menggunakan berbagai jenis kendaraan baik itu, mobil, sepeda motor hingga sepeda Ontel pun turut mewarnai prosesi malam pergantian tahun tersebut. Harapan demi harapan tersimpan dalam benak masyarakat. Namun pastinya, sebuah harapan yang sangat besar dan keinginan datangnya sebuah keajaiban yang turun dari langit mewarnai tahun berikutnya (2011) dan menghapus segala penderitaan yang telah terjadi ditahun-tahun sebelumnya. 

Jogja yang Indah Bagi Mahasiswa

“Hiruk pikuk” yang melanda Kota Yogyakarta beberapa bulan terakhir ini karena persoalan politik (budaya sekaligus), cukup menyita perhatian kita. “Kasus” RUU Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta membuat mata masyarakat Kota Yogyakarta khususnya, tertuju pada hal yang membuat Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DIY “renggang” ini. Unjuk rasa masyarakat DIY 13 Desember 2010 dan Kirab Budaya 5 Januari 2011 adalah dua momen yang menyadarkan akan kebersamaan bagi masyarkat Yogyakarta. Bahkan, tidak hanya masyarakat Yogyakarta, tetapi masyarakat luar DIY yang menetap di sini pun juga ikut bahu membahu memperjuangkan apa yang diinginkan oleh masyarakat DIY ini.

Banyak kalangan termasuk mahasiswa ikut turun ke jalan hingga diskusi-diskusi di ruang publik terkait RUU Keistimewaan DIY ini. Bagi mahasiswa, hanya itu yang bisa dilakukan, lebih dari itu tidak, karena yang menyuarakan kepentingan masyarakat DIY sudah ada DPRD dan DPD yang, tentunya lebih efektif. Peribahasa di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung sungguh tepat dialamatkan kepada mahasiswa yang ada di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Selama ini mahasiswa selalu peduli dengan kasus-kasus yang ada di tengah-tengah masyarakat DIY. Kasus pasir besi di Kulonprogo juga tidak bisa lepas dari mahasiswa. Bersama LSM, dan kalangan terkait lainnya, mahasiswa ikut menyuarakan dan mengadvokasi kepentingan masyarakat Kulonprogo yang merasa dirugikan oleh rencana penambangan pasir besi tersebut.

Yogyakarta adalah kota yang “indah” bagi mahasiswa. Status Kota Yogyakarta sebagai Kota Pelajar membuat mahasiswa betah dalam proses pengembangan potensi mereka masing-masing, karena dengan status Kota Pelajar tersebut pulalah yang mendukung tersedianya segala keperluan mahasiswa. Mengapa dikatakan “indah”? Karena semua yang dibutuhkan oleh mahasiswa tersedia di sini: kampus, buku, berbagai komunitas, mal, kafe, dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia mahasiswa lainnya. Dengan kata lain, akses para mahasiswa terhadap apa yang mereka butuhkan tersedia dan muda memperolehnya.

Tersedianya berbagai fasilitas di Kota Yogyakarta merupakan berkah bagi mahasiswa untuk mengembangkan disiplin ilmu masing-masing. Pergulatan mahasiswa dengan berbagai buku bacaan tidak bisa dimungkiri adalah faktor yang membentuk cara memandangi kehidupan di masa depan. Referensi buku yang cukup bervarian dibanding kota-kota lainnya di Indonesia, menjadikan para mahasiswa tertempa selama mengikuti proses perkuliahan di Kota Yogyakarta. Hal ini bisa menjadi bekal bagi mereka menjalani kehidupan di masa depan yang, tantangannya tentunya sangat berat.

Kota Yogyakarta selama ini menjadi magnet bagi para pelajar (mahasiswa) seantero Indonesia. Bahkan dari Jakarta pun yang notabene mempunyai beberapa kampus unggulan seperti UI, UIN Syarif Hidayatullah misalnya, dan akses informasi (buku, media massa, internet) yang begitu mudah karena faktor Jakarta sebagai ibukota RI, tetap saja anak-anak Jakarta berbondong-bondong untuk menuntut ilmu di Kota Yogyakarta. Memang ada kelebihan Yogyakarta dibandingkan Jakarta, yakni dari sisi kenyamanan lingkungan dan tersedianya beragam kampus. Kita semua mahfum dengan Jakarta yang setiap hari mengalami kemacetan, sedangkan Yogyakarta walaupun di beberapa tempat juga mengalami kemacetan, namun belum separah Jakarta. Selain itu, Yogyakarta menyediakan pilihan dengan ratusan kampus yang tersedia.

Yogyakarta akan tetap indah sekaligus nyaman bagi mahasiswa, sesuai dengan mottonya (Jogja berhati nyaman) meskipun ada tarik menarik kepentingan antara Pemerintah Pusat dan DIY terkait RUU Keistimewaan. Mahasiswa selama ini sudah relatif dimanjakan dengan segala fasilitas yang ada di kota yang pernah menjadi Ibukota RI pada tahun 1946 ini. Bagi yang tidak peduli dengan persoalan politik, cukup mengunjungi kafe, atau bagi sebagian mahasiswa pergi ke mal berbelanja atau menonton film saja. Bagi yang peduli, mereka bisa mendiskusikannya di kafe-kafe, ruang kuliah, dan berbagai ruang publik lainnya. Ada juga mahasiswa yang menuliskannya di berbagai media massa yang ada, media sosial seperti Facebook atau cukup bersms ria dengan sesama teman “mempergunjingkan” hal tersebut.

Kelakuan Ini Kelakuanmu

Mencoba mengurai makna dari arti tulisan penulis. Coba pembaca pahami dari tulisan penulis ini. Mungkin sekiranya tak bermakna ketika pembaca tidak memaknai arti yang sekiranya tak tertipikirkan. Kelakuanku ini kelakuanmu, sebuah tulisan sederhana dengan alur makna yang dalam ketika di urai.