Label

Tampilkan postingan dengan label in memoriam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label in memoriam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2011

Layakkah

Layakkah saya apabila saya hidup
Yakinkah Tuhan apabila Tuhan menjadikan saya sebagai khalifah
Aku tau Engkau cinta kepadaku
Layakkah aku ketika aku pilih-pilih syari’at-Mu
Layakkah aku mendiamkan mereka yang menjualkan kehormatan
Layakkah aku membuang jubah fakir dan kemiskinan itu
Aku bukan tak beriman Tuhan
Aku bukan tak cinta Engkau
Izikan aku memendam norma-norma agama-Mu
Sejenak
Izinkan aku pinjam malaikat-malaikat-Mu
Sejenak
Tuk mereproduksi kembali hakikiMu

Yogyakarta, 27 Februari 2011
By Arki Aninditya

Caper

Di atas tanah yang berjoget-joget ia teriakan takbir
Seolah-olah ia berjihad
Padahal di situ tempat memohon kepada Tuhan
Bukan memohon agar empat puluh hari sholatnya tak diterima
Sedikit ‘caper ‘
Memohon agar Tuhan melihat dan memperhatikannya

27 Februari 2011, Yogyakarta
By: Arki Aninditya

Kelakuan Ini Kelakuanmu

Mencoba mengurai makna dari arti tulisan penulis. Coba pembaca pahami dari tulisan penulis ini. Mungkin sekiranya tak bermakna ketika pembaca tidak memaknai arti yang sekiranya tak tertipikirkan. Kelakuanku ini kelakuanmu, sebuah tulisan sederhana dengan alur makna yang dalam ketika di urai.

Arang Hitam

setoreh arang hitam di pegang anak kecil yang tak memaknainya
bermain ia dengan canda dengan kawannya
tak lagi marah, tak lagi murka ketika ia coret di pipi kawannya
tertawa kawannya terbahak – bahak ketika itu adalah lelocon
begitu pula ketika ia berdasi nanti
coretan – coretan itu adalah lelocon
dinamika ia yang berdasi
yang duduk di atas singgasana rakyat
meski arang itu hitam


By: Arki Aninditya

Yogyakarta, 9 Januari 2011

Hitamku

Aku ini pekat
Tapi kau suka
Aku ini hitam
Tapi kau cinta
Aku ini haram
Tapi kau menghalalkanku
Aku ini buruk rupa
Tapi indah menurut pandangmu
Sebenarnya aku putih
Tapi kau memaksaku untuk hitam
Inilah aku
hitammu
 
By: Arki Aninditya

Aku Tidak Durhaka

Apakah aku ini durhaka ketika diriku melawan kebijakan yang melahirkanku
Lalu bagaimana apabila yang melahirkan ku
Mengajarkan aku untuk hidup tanpa sosial
Tak peka pada mereka yang lumpuh di makan cacing cacing demokrasi
Lalu bagaimana aku ketika aku dipaksa menikah
Dengan robin hood pemerintah yang merampas uang si miskin
Atau dengan kyai yang berilmu Allah dan berakhlag setan
Atau dengan mereka tentara kuat tapi cengeng yang hanya berani dengan rakyatnya
Atau dengan dokter yang hanya mau memnyembuhkan mereka yang berduit
Dan apakah aku harus berbakti dengan mereka yang tak berbhakti
KepadaMu Ya ALLAH
Aku ini lahir karenaMu Ya ALLAH
Bukan karena mereka yang melakhirkan ku karena mereka tak bisa menjetikan jarinya
Dan berkata
kunfayakun

 
By: Arki Aninditya

Ia Yang Tegas

Berdiri ia dengan kultur lugas tegas keras
Prinsipnya bagai saifullah
Ia yang berlayar di lautan tegar di hantam ombak murka kemunafikan dunia
Itu dulu ketika layar kapal dibuat kain indah yang di jahit oleh tangan tangan bijak
Tak seperti sekarang
ia kultur lugas tegas keras
Prinsipnya seperti pedangang moral
Siapa yang berkantong tebal maka itu yang ia bela
Dan sekarangpun ia berlayar dengan kapal mewah di tengah kesengsaraan dunia
Ia ini siapa?
Siapa ia?
Jawabannya adalah diriku mungkin
Atau malah dirimu

By: Arki Aninditya

Perut

Lika liku manusia kadang terarah kadang tak terarah
Kadang tertawa hingga mati rasa
Kadang mengangis hingga mati qalbunya
Tak demi ia yang menciptaNya
Tak demi bumi dan isinya
Tapi demi isi perutnya dan demi nafsunya

 by: Arki Aninditya

Rumput

Penuh laga di rumput hijau
Seolah rumput tak mengeluh untuk di tanam dan dinjak
Rumput itu tak hina
Rumput itu terlalu mahal harganya
Di depan Tuhan rumput bertasbih memuji
Di depan manusia ia berceloteh tegak meski sakit dan mati pada akhirnya
Dalam celoteh dan doa rumput menguapkan rasa
Kalaupun aku di injak untuk menanamkan rasa nasionalisme
Maka dalam lapangan bola aku berguna
Meski sakit dan mati aku ikhlas padaMu Ya Rabb
Karena hidupku hanya untukMu Ya Rabb
Tak seperti manusia yang bertasbih pada yang mencetak gol
Dan selalu ingkar pada yang membuat ruh dalam raga yang menghidupkan laga

 by: Arki Aninditya

SOTO CITA RASA CINTA

Mulutnya ternganga terciprat pedasnya cabai
Tapi pedasnya bagai candu ganja yang membuat ketagihan
Asinnya garam membuat ketir lidahnya
Tapi ketirnya bagai garam dilaut yang menumbuhkan biota laut
Kecutnya jeruk nipis membuat dahi berkerut
Tapi kecut itu indah katanya, ibarat pikiran cerdas yang mengerutkan dahi
Manisnya gula tercampur salju membuat tenggorakan lega dari dahaga
 manis itu sangat indah, seolah lupa dirinya dari bebannya nanti
Mulutnya meringgis terciprat cuka yang bacin baunya
Tapi bacinnya cuka segar baginya untuk pelengkap menunya
Semua terangkai di sajian pelepas nasfu yang di cari
Soto dan cinta
Penuh rasa, penuh suka cita
Ramai bumbunya dalam memaknai rasa dan cinta
Meski kadang tak enak tetap dicari
Begitu pula cinta meski kadang pilu tetap dirindu penikmatnya


by: Arki Aninditya

Kamis, 02 Juni 2011

Berhala-berhala Surga

Diam tak berkata, bukan tak ada kecap
Melihat dengan kebutaan, bukan tak sedih atau tak senang
Tak berjalan bukan berarti tak ada intonasi kehidupan
Tak ingin memuja tapi ingin dipuji
Bukan pujian neraka melainkan pujian surga
Seolah mati tapi sesungguhnya hidup
Memilih nafsu dalam diam

AA: Yogyakarta, 2011

Hilang


Aku menangis saat kekasihku hilang
Aku menangis saat hartaku hilang
Aku menangis saat semua organ tubuh hilang fungsinya
Bagai luka terkena lada aku menahan kesakitan hati ketika hilang semua yang kudamba,
kucinta, kubutuhkan

Makan hilang itu agung, karena kita juga akan menghilang
Hilang adalah ada
Ketika kita hilang maka kita akan bertemu hilang
 
AA: Yogyakarta 2011



Mantra Buta

Dalam gelap ia meraba
Dalam terang ia terjatuh
Buta mata bukan berarti buta hati
Buta hati adalah makna buta mata

AA: Yogyakarta, 2011


Minggu, 22 Mei 2011

Tanpa Judul

Tertunduk aku melihat awan mendung
Tak ada lagi matahari serta awan cerah
Berteriak aku ya rahman
Ya rahman tapi, DIA diam seolah bisu
Apakah DIA mulai menanyakan cinta-NYA yang tak terbalas
Ataukah kita tak tahu kalau DIA mencitai kita
Bertanya aku pada angin kenapa ia diam
Maka angin menjawab dengan hembusannya
Ia sedang sedih melihat tingkah lakumu,yang tak membalas cintanya
Maka aku lantang berteriak
Wahai angin bicaralah dengannya agar ia tidak diam melihat duka ini
Maka angin menjawab dengan hembusannya lagi
DIA tidak diam ia memerintakan aku sang angin untuk tetap ada manusia
Maka sayangilah DIA jangan sampai aku sang angin berhenti berhembus
Sungguh aku cinta engkau wahai umat Muhammad saw
Ikutilah teriakan Muhammad SAW,maka ia akan segera menyambut teriakanmu
Dengan cintanya
Jawab angin



Arkhi Aninditya
Pegiat forum “Komunitas Belajar Menulis”
Yogyakarta, 26 Desember 2010

Dari Tongkat-Tongkat

Berawal ketika tongkat itu rapuh dimakan rayap barulah sadar bahwa sang Sulaiman telah meninggal ”dan ketika pak jendral mengacungkan tongkat komando” serta merta bumi pun hangus tanpa sebab siapa yang salah”. Pernahkah kita berpikir sebuah perbedaan yang sangat signifikan antar tongkat komando pak jendral dan tongkat nabi sulaiman as di masa kehidupannya. Tongkat sebagai arti kewibawaan ”arti perintah dan perlambang seseorang di masa kehidupannya ketika ia menjabat suatu jabatan penting. Seperti Panglima Laskar, Jendral, Nabi/da’i yang bedakwah. Sungguh membuat ku  haru, sangat haru atau sebalik nya memuakan untuk di lihat dan dibahas kenpa pantas ia yang membawa. Itu pertanyaan ku, kita kembali ke sejarah beberapa abad silam, dimana Nabi Sulaiman as membawa tongkat rahmatanlilalamin-Nya. 

Ketika suatu hari menjelang tua sang sulaiman membangun tempat untuk bersemayamnya dia, maka dia perintah jin untuk membangun sebuah bangunan, dan sulaiman as mengawasinya supaya pekerjaannya jin selesai pada waktunya.
Sadar akan dirinya yang telah tua maka ia duduk dengan tongkat kayu untuk menjaga badannya yang tua. Dan ketika bangunan itu selesai sang jin pun bertanya pada suliaman bahwa bangunan ini telah selesai. Sulaiman as hanya diam sang jin duduk depannya menunggu jawaban. Tiba-tiba tongkat pun patah karena rapuh telah dimakan rayap, Sulaiman pun jatuh.

Sabtu, 21 Mei 2011

(aku mencintaimu)

kusimpan sajakmu dihati
bila suatu hari nanti engkau lupa
aku akan menuliskannya kembali
menyederhanannya dalam sebuah kecupan...

Sugiri

(salam untuk dia yang terbaring)


Hidup begitu singkat untuk dijalani
Tapi keyakinanmu adalah tetes embun yang setia memangku nur ilahi
Walau kadang luput, tapi dalam cerita hidupmu
Dalam bait-bait sajakmu
kau selipkan cinta

kini, kulihat engkau yang bebas
dari kategori picisan dan romantisme dunia yang kadang menipu
walau kadang luput, tapi dalam candamu
dalam sorot matamu
kau hadirkan kemesraan

adakah yang lebih hening dari kesendirian?
Seperti masamu dulu dalam rahim sang ibu

Ku tahu kau tak akan sendiri,
cinta menghadirkan doa-doa
kerinduan Tuhan mengalahkan segalanya

mungkin dalam mimpi, engkau tak melihat wajah ibumu
tapi dalam misteri-Nya adakah perbedaan antara siang dan malam?jauh dan dekat?
bahkan kehidupan dan kematian?
Ah, Hidup terlalu dini untuk menerjemahkainn kata-kata.
Tapi misteri adalah kepastian
Seperti saat ku tatap  kepergianmu sore itu

Sugiri
Yogyakarta, 10 April 2011

Sobat, Dengan Puisi Aku Mengabadikanmu

Sobat, sore itu kupandangi raut wajahmu
Di tengah kerumunan orang-orang yang berkejaran melihatmu
Kau yang telah dibalut kain putih
Yang terbaring menghadap ke atas, ke ketinggian
Di tempat di mana dulu kita sering membaca puisi bersama
Di tempat di mana dulu kita membuka tabir-tabir kehidupan
Untuk menatap masa depan
Membaca peta kehidupan untuk kita jejaki bersama
Seolah itu adalah mimpi bahwa sore itu, Rabu, 6 April 2011
Adalah yang terakhir kali aku memandangi raut wajahmu

Sobat, dengan puisi ini aku mengirim pesan kepadamu
Kedua orang tuamu mencintaimu dengan sangat
Mereka begitu terpukul, begitu kehilangan akan dirimu
Kulihat dari cara jalannya yang dipapah menujumu
Melihat wajahmu yang dibalut kain putih di dalam peti itu
Apakah engkau dapat melihatnya juga?
Melihat cinta orang tua kepada anaknya yang terukir dengan tinta air mata bercucuran

Sobat, di antara kita tidak ada ikatan darah
Tidak ada ikatan suku
Kita terlahir dari dua suku dan pulau yang berbeda
Namun, kepergianmu menyadarkanku adanya ikatan yang begitu erat di antara kita
Dan itu adalah ikatan persahabatan yang dibangun dengan ketulusan

Sobat, dengan puisi ini aku mengabadikannmu
Mengabadikan persahabatan kita
Yang kini mulai kita jalin dari dua dunia yang berbeda
Selamat jalan sobatku, Arkie Aninditya
Kuantarkan kau menghadap pada Sang Khalik dengan do’a


Ahmad Sahide
(Yogyakarta, 8 April 2011)


Senin, 11 April 2011

10 April 2011 Komunitas Belajar Menulis



Sepuncuk surat kerinduan
Arki Aninditya

Apa kabar mu sayangku
Lentera – lentera cinta mu di hatiku masih begitu terang
Tombol “shutdown” itu masih terus menyala di kelamnya hatiku
Meski terkadang aku kucurkan air whisky
Agar konslet memory komputer hatiku ini
....................................
m
....................................
Satu huruf yang eror di keyboard kumputerku ini
Yach meskipun aku sekarang sudah ada penganti
Tapi entah mengapa flasdish ku ini tak bisa di sambungkan
Ke komputerku  yang rusak tuk mengisi data – data program baru
Baru tiga minggu ini sayang aku serahkan komputer ini ke progamer
Tapi entah menggapa program windows terbaru tahun 2011 ini tak bisa diupdate
Bahkan keyboard ini sangat susah di perbaiki
Dua tahun lalu ada progamer yang handal
Seluruh ram dan memory komputer ku selalu bisa di update dengan bagus
Entah mengapa progamer itu hilang
Mungkin ia pindah sayang
Yach sepertinya ada tempat komputer yang lebih menjanjikan di Jakarta
Semoga progamer itu kembali lagi di Jogja
Agar komputer ku bisa diperbaiki

Yogyakarta, 28 Maret 2011