Tampilkan postingan dengan label essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label essay. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2016

Ahok



Ahok
Ahmad Sahide
            Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama atau yang dikenal luas dengan sebutan Ahok, menjadi salah satu figur yang banyak disorot oleh pemberitaan media. Seolah pemberitaan media tidak lengkap tanpa ada berita terkait Ahok. Terutama pada tahun 2016 ini, satu tahun menjelang pemilihan gubernur ibu kota. Ahok selalu menjadi incaran media, baik itu terkait dengan kebijakannya maupun segala kontroversi yang menjadi bagian menarik dari sosoknya. Sosok Ahok hanya kalah menarik dan populer dari Presiden Joko Widodo, orang nomor satu di republik ini.
            Oleh karena itu, popularitas Ahok menjelang pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 membuat para kandidat yang berniat menantangnya bermanuver dengan berbagai macam cara dengan harapan dapat merusak citra dan popularitas gubernur kontroversial tersebut. Bahkan para kandidat, termasuk Yuzril Ihza Mahendra, beramai-ramai menyudutkan Ahok untuk menjegal langkahnya memimpin Jakarta periode 2017-2022. Hal itu karena para pengamat dan awak media memprediksi bahwa Ahok tidak mendapatkan banyak kesulitan untuk memertahankan posisinya, jika melihat tingkat elektabilitasnya saat ini yang mendekati 50 persen (Republika.co.id, 12 Maret 2016). 

Daya Tarik Ahok
Munculnya Ahok sebagai figur yang sangat populer dan menjadi incaran media karena beberapa hal yang cukup menarik dari sosoknya. Pertama, Ahok sejak awal kemunculannya dalam kancah politik ibu kota telah banyak disorot karena latar belakangnya yang berbeda dari latar belakang masyarakat ibu kota pada umumnya. Ahok adalah figur dari etnis Tionghoa yang agamanya berbeda dari agama mayoritas (Islam). Maka dari itu, dalam masa kampanye untuk pemilihan gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012, banyak figur dan kelompok masyarakat yang menyerang dari sisi keyakinannya. Salah satu figur yang sempat menyerangnya dan diproses secara hukum adalah penyanyi dangdut Rhoma Irama.
Pada saat itu Ahok maju sebagai calon wakil gubernur mendampingi Jokowi. Duet harmonis ini hanya berlangsung sampai akhir tahun 2014, pasalnya Jokowi maju sebagai calon presiden pada tahun 2014 dan berhasil memenangi kontestasi politik tersebut. Jokowi pun mundur sebagai gubernur DKI Jakarta dan melantik mantan wakilnya itu sebagai Gubernur ibu kota, menggantikan dirinya. Setelah dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta, Ahok mendapatkan panggung politik yang semakin luas dan besar. Sosoknya pun semakin menarik awak media. Penolakan dari kelompok tertentu pun semakin keras, seperti Front Pembela Islam (FPI) yang sempat mendeklarasikan Gubernur DKI Tandingan. Tapi sosok Ahok malah semakin populer dari Sabang sampai Merauke.
Kedua, Ahok muncul sebagai sosok pemimpin dengan gaya bahasa yang berbeda. Ahok bukanlah pemimpin yang menjaga citra dengan bahasa yang normatif sebagaimana pemimpin pada umumnya. Sebaliknya, dari Ahok kita sering kali mendengar kata-kata seperti (maaf) ‘bajingan, bangsat, kurang ajar’ dan lain sebagainya yang menjadi konsumsi pemberitaan. Bahasa yang tidak terjaga itulah yang biasanya dijadikan celah oleh lawan-lawan politiknya bahwa Ahok tidak pantas menjadi seorang pemimpin karena tidak mampu menjaga lisannya. Bahasa Ahok banyak kita dengar dari anak-anak jalanan pada umumnya.
Kedua faktor ini yang membuat Ahok menjadi sosok yang menarik dan selalu ditunggu oleh awak media. Ia seperti Jusuf Kalla ketika mendampingi Susilo Bambang Yudoyono (SBY) pada periode 2004-2009. Jusuf Kalla pada saat itu adalah tokoh yang selalu dinanti karena sering kali memberikan pernyataan politik yang tidak disangka-sangka. Namun kini, ada sosok yang lebih ‘nyentrik’ dari Jusuf Kalla, yaitu Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Di samping itu, Jusuf Kalla yang kini kembali menjadi wakil presiden mendampingi Jokowi sudah cukup tua sehingga ia muncul sebagai sosok yang lebih ‘calm’. Maka munculllah Ahok sebagai sosok yang menarik dari media, bukan lagi Jusuf Kalla.

Kedewasaan masyarakat
            Tingginya popularitas Ahok meskipun ia selalu diserang karena latar belakang keyakinan dan bahasa politiknya menjadi catatan tersendiri bagi kita semua bahwa masyarakat pada umumnya, terutama di ibu kota, sudah mulai dewasa. Kedewasaan masyarakat karena kemampuannya melihat bahwa banyak pemimpin hari ini yang menjadikan agama sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan, bukan sebagai pandangan hidup dan sumber nilai-nilai dalam menjalankan roda kekuasaan.
            Hal itu terlihat bahwa banyak pemimpin-pemimpin partai politik berlabelkan Islam justru terjerat kasus koruspsi dan bahkan beberapa terbukti ‘bermain’ perempuan. Perilaku yang jauh menyimpang dari nilai-nilai agama itu sendiri. Kini masyarakat ibu kota sadar bahwa agama Ahok memang bukan Islam (yang mayoritas) tetapi kepemimpinan Ahok ‘lebih islami’ dibanding pemimpin yang berlatar belakang Islam. Bahasa Ahok memang bahasa anak jalanan tetapi kinerjanya selama memimpin ibu kota dapat dirasakan langsung oleh masyarakat pada umumnya, terutama dalam mengurangi banjir dan tingkat kemacetan. Masyarakat merasakan keberpihakan Ahok kepada masyarakat kecil pada umumnya.
            Itulah sosok Ahok yang setiap hari menjadi pemberitaan media, baik lokal maupun nasional. Kehadirannya memberikan banyak pelajaran penting dan kedewasaan dalam dinamika politik Indonesia. Presiden Republik Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), punya pernyataan yang sering dikutip, yaitu “Tidak penting apapun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah Tanya apa agamamu.”
Dalam konteks politik ibu kota, sepertinya rakyat sedang menyampaikan pesan kepada para pemimpin bahwa tidak penting memandang status primordialmu, kalau kamu (pemimpin) bisa membawa perubahan dan perbaikan dalam kehidupan kami, kami akan memilihmu tanpa melihat agama atau suku selagi pilihan itu tidak menghalangi rakyat melaksanakan ritual sesuai dengan agamanya masing-masing. Barangkali itulah pesan kuat yang dikirimkan oleh rakyat ibu kota dengan tingginya tingkat popularitas Ahok menjelang pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 nanti. 
Yogyakarta, 24 April 2016

Minggu, 07 Februari 2016

Arus Balik Politik



Arus Balik Politik
Ahmad Sahide

            Ketika Megawati Soekarno Putri resmi memberikan mandat kepada Joko Widodo (Jokowi), untuk menjadi calon presiden, pada tanggal 14 Maret 2014, yang ditulis tangan langsung olehnya, Ketua Umum PDI P itu pun mendapatkan sambutan hangat dari publik dan para pemerhati politik.
Surat mandat yang membuka jalan bagi Jokowi untuk memimpin negeri ini kian terbuka lebar dan itu juga, di mata publik, menunjukkan kebesaran jiwa dan kematangan berpolitik Megawati Soekarno Putri. Megawati pun disanjung luas sebagai negarawati sejati.  Hasilnya, Jokowi-Jusuf Kalla (JK), yang diusung PDI P dan koalisinya, memenangi pemilihan presiden dan wakil presiden 9 Juli 2014 lalu, mengalahkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, yang diusung oleh Koalisi Merah Putih (KMP).
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang hanya diikuti oleh dua pasang calon itu membuat atmosfer politik, menjelang dan sesudah 9 Juli 2014, sangat panas dan keras. Black campaigne (kampanye negatif) oleh kedua pasang calon untuk merebut suara publik tidak terhindarkan. Dan pasangan Jokowi-JK lebih banyak mendapatkan serangan politik (negatif) daripada pasangan Prabowo-Hatta. Serangan politik yang tidak dapat diterima oleh nalar sehat, dengan penguasaan media, oleh pasangan Prabowo-Hatta itulah yang membuat pasangan ini mempunyai citra negatif di masyarakat. Jokowi dituduh dengan berbagai macam isu yang justru itu menghadirkan simpati publik meluas padanya, seperti dengan tuduhan bahwa Jokowi adalah keturunan Tionghoa dan lain sebagainya.

Setelah 9 Juli 2014
            Setelah pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 9 Juli 2014, masing-masing kedua pasang calon mendeklarasikan kemenangannya, berdasarkan hasil Quick Count (hitung cepat) dari lembaga survei yang berbeda. Hari itu juga, Prabowo memberikan pidato kemenangan yang disiarkan beberapa stasiun televisi, seperti MNC TV Group, TVONE, dan lain-lain. Di tempat yang terpisah, Megawati Soekarno Putri, sebagai Ketua Umum PDI P yang mengusung Jokowi-JK, juga memberikan pidato kemenangan. Juga disiarkan langsung oleh beberapa stasiun televisi yang secara tidak langsung berada di belakangnya.
            Pertarungan politik yang keras itulah yang membuat rakyat terbelah menjelang dan sesudah 9 Juli. Namun sebagian besar rakyat Indonesia memercayai bahwa pasangan Jokowi-JK yang memenangi daur ulang demokrasi 2014, kemenangan yang tidak diakui oleh pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Sikap politik Prabowo-Hatta dan KMP itulah yang membuat citranya di mata publik semakin negatif. Sebaliknya, Jokowi-JK dan partai pengusungnya, Koalisi Indonesia Hebat (KIH), semakin kuat mendapatkan pembelaan dari rakyat.
            Citra politik Prabowo-Hatta beserta KMP semakin buruk ketika tidak menerima hasil resmi pemilihan presiden dan wakil presiden yang disampaikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 22 Juli 2014 di mana pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa memeroleh suara 46,85%, sedangkan pasangan Jokowi-JK memeroleh 53,15%. Pasangan Prabowo-Hatta kemudian menggugat hasil pemilihan umum melalui Mahkamah Konstitusi (MK) tetapi akhirnya tetap kalah. Langkah politik ini dibaca oleh publik bahwa ini semata ketidakrelaan Prabowo-Hatta menerima hasil pemilihan umum yang menjadikannya sebagai pasangan yang kalah. Prabowo, terutama, dianggap tidak berbesar hati menerima hasil dari daur ulang demokrasi lima tahunan itu.
Prabowo-Hatta berserta KMP pun kemudian membalas kekalahannya pada 9 Juli 2014 dengan menguasai Parlemen. PDI P, sebagai pemenang pemilihan legislatif beserta partai koalisinya (KIH) disingkirkan di Parlemen. Pimpinan MPR dan DPR serta alat kelengkapannya  dikuasai sepenuhnya oleh KMP. Hal inilah yang kemudian memunculkan DPR tandingan dari KIH sebelum akhirnya tercapai kompromi politik oleh kedua kubu di Senayan. Namun demikian, kisruh politik ini semakin memperburuk citra Prabowo-Hatta dan KMP di mata publik. Sebaliknya, Jokowi-JK dan partai pengusungnya semakin menikmati sanjungan publik terhadapnya.

Politik Arus Balik
            Menjelang pelantikan Jokowi-JK 20 Oktober 2014, sempat diberitakan secara luas bahwa Prabowo Subianto tidak akan menghadiri pelantikan pemimpin baru tersebut. Hal ini pula yang semakin menambah rentetan kekecewaan publik, termasuk pendukungnya pada 9 Juli, terhadap sosok Prabowo. Apalagi sempat santer diberitakan bahwa MPR dan DPR, yang dikuasai KMP, akan memboikot pelantikan Jokowi-JK. Tentu saja isu ini membuat publik resah dan cemas.
            Prabowo sepertinya membaca aspirasi publik tersebut sehingga akhirnya memutuskan menghadiri pelantikan Jokowi-JK, terlebih sebelum 20 Oktober, Jokowi menyambangi Prabowo di kediamannya. Kehadrian Prabowo dalam pelantikan Jokowi-JK mendapatkan perhatian khusus dari berbagai media. Tidak berhenti sampai di situ, Prabowo mendapatkan pujian dari berbagai pihak di mana sebelumnya dinilai negatif. Prabowo menunjukkan nasionalismenya dengan menghadiri pelantikan pasangan yang mengalahkannya. Hal ini pula yang dikaitkan dengan sosok Megawati Soekarno Putri yang tidak menghadiri pelantikan Susilo Bambang Yudoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK), 20 Oktober 2004 silam. Dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden waktu itu, SBY-JK mengalahkan Megawati-Hasyim Muzadi.
            Beberapa hari setelah pelantikan Jokowi-JK, Megawati dan PDI P kembali menjadi sorotan publik. Sosok Megawati, terlepas benar atau tidak, ditengarai terlalu jauh ikut campur dalam penyusunan kabinet yang akan dibentuk Jokowi-JK. Megawati, yang sebelumnya disanjung, mulai menuai kritikan dari publik. Megawati sedikit memberikan data penguat akan tesis yang berkembang menjelang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden bahwa Jokowi akan menjadi bonekanya.
            Kini, setelah memasuki bulan keempat kepemimpinan Jokowi-JK, muncul prahara politik yang belum juga selesai, yakni konflik KPK-Polri. Publik dan banyak pengamat menengarai bahwa ada sosok Megawati di belakang munculnya prahara politik ini. Budi Gunawan (BG), calon Kapolri yang ditersangkakan oleh KPK, adalah ‘pesanan’ dan terkesan dipaksakan untuk memimpin kepolisian Republik Indonesia. Banyak yang mengatakan bahwa Megawati dan Budi Gunawan mempunyai hubungan yang cukup dekat mengingat BG adalah ajudan Megawati saat menjadi Presiden ke-4.
            Dalam konflik KPK-Polri, PDI P terkesan membela BG, dan hal itu menekan Presiden Jokowi yang tidak ingin melantik BG. Jokowi pun sepertinya kini berhadapan dengan partai tempatnya bernaung, dan itu berarti berhadapan dengan Megawati Soekarno Putri. Akhirnya tercium oleh publik akan keretakan hubungan antara Jokowi-Megawati dan PDI P. Pernyataan dari Puan Maharani, putri kesayangan Megawati, yang memersilahkan Jokowi untuk membuat partai sendiri memperkuat dugaan keretakan tersebut. Meskipun pada sisi yang lain, ada bahasa yang tidak terucapkan dari PDI P bahwa Jokowi berhutang budi terhadap PDI P yang mengantarkannya ke istana.
Sebaliknya, Jokowi justru mendapatkan dukungan dari Prabowo dan KMP, hal itu diungkapkan oleh Prabowo saat diundang ke Istana Bogor oleh Presiden Jokowi. Dinamika politik ini yang menggeser persepsi publik, Megawati dan PDI P disoroti negatif oleh publik sedangkan Prabowo dan KMP mendapatkan apresiasi positif dengan berada di belakang Presiden Jokowi untuk mengambil keputusan terkait konflik KPK-Polri. Inilah drama arus balik politik yang sedang ditonton oleh pemirsa di seluruh Tanah Air.
Terakhir, sebagai anak bangsa, saya ingin menyampaikan pesan terbuka kepada Megawatai Soekarno Putri, Presiden ke-4 kita yang tercinta, dan PDI P bahwa betul Jokowi berhutang kepada PDI P yang mengantarkannya menjadi orang nomor satu di negeri ini, tetapi Jokowi juga mempunyai andil besar atas kemenangan yang diraih oleh PDI P, baik pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden. Oleh karena itu, akan lebih baik, dan itu harapan rakyat, jika Megawati dan PDI P tidak terlalu jauh ikut campur dalam pengambilan kebijakan oleh Presiden Jokowi. Berikanlah ruang yang luas bagi Presiden Jokowi untuk menafsirkan dengan kebijakan politik dari ideologi partai yang mengusungnya. Tugas Megawati adalah menjaga perkaderan dan ideologi partainya. Tugas Jokowi adalah memimpin negeri ini dengan semangat ideologi partai. Hanya dengan demikianlah Megawati akan selalu mendapatkan tempat di hati rakyat Indonesia sepanjang sejarah, bukan hanya saat PDI P berkuasa!
Ahmad Sahide
Pegiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta


Senin, 21 Desember 2015

Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta, Menyambut Hujan Bulan Desember



Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta
Menyambut Hujan Bulan Desember

Hujan di bulan Desember berlinang dengan kenangan, manakala air mata telah mengering.  Rinai hujan di luar pintu jendela mengucur deras. Sesekali sepasang bola mata mengintip ke luar jendela, jejak langkah terhapus air hujan. Kini, hanya menunggu genangan untuk merapal jalan yang basah. Tapi, izinkan aku mengecup bulan Desember di simpang jalan.
Di bulan Desember 2015, Komunitas Belajar Menulis (KBM) Genap lima tahun menyambut jalan yang basah, titah kehidupan ia rapalkan dengan segenap pengabdian. Membina generasi yang tampak sungsang. Membuka jalan setapak menuju bukit kata, menjajaki kehidupan yang tampak suram. Dalam kata ditemukan kehidupan, dalam rumpun kalimat disemai makna, di dalam buku kehidupan diabadikan. Itulah, titah yang dijalankan KBM membabat belukar kehidupan dengan pena. KBM terlahir di bulan yang basah atau bulan yang penuh kenangan dan genangan. Biarkan tahun mengatup di bulan Desember sebagaimana usiaku (Penulis)  kembali menjajaki di penghujung jalan. Coretanku terlahir dari rahim KBM.
Aku sebagaimana yang lain, ditampung di ceruk KBM mengasah ketajaman pena, menyusun piramida kata, dan melukis bahasa. Setelah itu, diteror galak tawa dan kritikan menohok. Muka tampak merah padam, keringat berkucur deras, debar jantung semakin menggebu, dan senyum tersipu malu adalah ucapan selamat datang di KBM. Lihatlah sang pemula, pasti tampak malu-malu, celingak-celinguk, dan atau tertunduk rapuh membaca lembaran-lembaran kertas di depannya. Tapi, bukan ini yang menjadi kesan utama di KBM. Sebab, Jika Anda lupa bahagia silakan mampir di KBM. KBM adalah tampung air segi empat (lihat novel Pulang, 196-197 ). Di KBM dirayakan galak tawa, bermain-main dengan syair dan membual bersama. Tak heran jika pesertanya hilir mudik, bertahan, dan lupa jalan pulang ke KBM.
Selama kurang lebih setahun di KBM, Ini kali Pertama KBM mengadakan kegiatan di luar rutinitas berjamaah di malam Senin. Tepat pada tanggal 14 Desember 2015, KBM mengadakan diskusi “klinik kepenulisan” yang dibawakan oleh Ade Ma’aruf Wirasanjaya, S.IP., M. A dan Teori Public Speaking” oleh Ratih Herningtyas, S.IP., M.A di markas KBM, Jalan Golo, no. 36A Yogyakarta. Diskusi akan dimulai tepat pada pukul 14.30-17.00 WIB. Namun, tidak berjalan sesuai dengan harapan. Diskusi terus ditunda sampai pada pukul 17.01 WIB dengan alasan pematerinya belum datang. Berdasarkan desas-desus yang berkembang di peserta diskusi “pemateri terlambat karena sedang menguji di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta”.  Sambil menunggu pemateri Ade Ma’aruf Wiransanjaya dan Ratih Herningtyas, Moderator membuka acara diskusi dengan perkenalan dan pembacaan puisi dari peserta diskusi.
Pembacaan puisi disambut riuh oleh peserta, suara tepuk tangan menderu setiap akhir pembacaan puisi. Muka malu-malu di antara butiran hujan yang jatuh di luar sana, tidak mengurangi desiran suara merdu para pembaca puisi. Rasa malu lekas pergi, buku puisi terus bergulir di antara para peserta. Senandung lirih terus menggema hingga pada akhirnya hampir semua peserta mendapat giliran membaca puisi. Semuanya berjalan sesuai dengan nada gemericik hujan di luar ruangan. Suara adzan Magrib ikut berhembus bersama desiran angin, pembacaan puisi diakhiri. Dengan melanjutkan pelaksanaan salat berjamaah. Sementara, pemateri (Ade Ma’aruf Wirasanjaya) masih dalam perjalanan.
Penantian yang cukup panjang dari pukul 14.00-18.00 beberapa peserta mulai mangkat. Mungkin, di antara yang pulang masih ada rindu yang disematkan pada kekasih atau janji yang tidak bisa diingkari. Gemerlap malam Minggu masih sulit terbendung pada jiwa muda, nada-nada cinta masih menghias di bawah pelupuk mata. Jalan pulang adalah pilihan terbaik untuk beradu dengan malam “memadu kasih”. Tapi, semoga bukan itu yang menjadi alasan pulang. Dari tutur mereka yang pulang karena ada kegiatan malam itu “Minggu”, mereka sedang penggalangan dana, dan memiliki kegiatan penting di tempat lain.
Gemericik butiran hujan terus berpagut dengan malam, Ade Ma’aruf Wirasanjaya telah tiba. Beliau memasuki klinik KBM dengan warna baju merah maron, celana warna hitam dengan menenteng tas laptop di tangan kirinya. Beliau disambut dengan senyuman peserta diskusi, beberapa orang menyalaminya dengan senyum simpul perkenalan. walaupun, kedatangan beliau sangat telat, acara diskusi tidak pindahkan ke hari lain. Sebab, Beliau sedang menada hujan.

Ade Ma’aruf Wirasanjaya Menada Hujan
Pada pukul 18.15 WIB, acara diskusi dimulai oleh saudara moderator Wira Prakasa Nurdia dengan ucapan basmalah “Bismillahirahmanirrahim”. Selanjutkan, moderator memperkenalkan identitas singkat dari pemateri, yang bernama Ade Ma’aruf Wirasanjaya, S.IP., M. A, sebagai pengajar di jurusan Hubungan Internasional Muhammadiyah Yogyakarta. Beliau juga sebagai penulis di berbagai media baik media lokal maupun media nasional. Setelah itu, sang moderator mempersilakan pemateri untuk memaparkan tema diskusi kali itu yakni; “Teknik dan Pola-pola Penulisan Essai, Artikel dan Buku”.
Kesempatan itu disambut baik oleh Pak Ade M. Wirasanjaya. Permohonan maaf tidak lupa disampaikan oleh pak Ade M. Wirasanjaya karena keterlambatannya dan titian permohonan maaf dari ibu Ratih Herningtyas, S.IP., M.A, yang tidak sempat hadir pada kesempatan malam itu. Dan jadwalnya dipindahkan ke hari yang lain.
Tanpa terlalu lama basi-basi beliau langsung menjabarkan materi teknik penulisan yang baik dan persoalan yang dihadapi oleh penulis. Menurut penuturan Pak Ade, seorang penulis harus memiliki 3i (Insight, Information, Imagination). Tanpa kemampuan tersebut kemampuan menulis seseorang akan mengalami kemandekan. Dan kualitas tulisan ditentukan oleh ketiga unsur tersebut. Seseorang penulis harus punya wawasan (Insight) yang luas, yang didukung oleh data (Information), dan di dukung oleh daya imajinasi (imagination) seorang penulis. Imajinasi seorang penulis sangat penting untuk memainkan daya alir sebuah tulisan. Sebuah tulisan yang baik ketika enak dibaca, tata bahasa yang baik serta permainan diksi, yang melenakan pembaca.
Selain itu, seorang penulis dituntut untuk mempersiapkan tiga hal yaitu basic knowlodge atau angel of view (sudut pandang) dalam melihat persoalan atau masalah sosial yang terjadi di sekeliling kita. Sebaiknya, sudut pandang penulis dipengaruhi oleh disiplin  akademiknya (keilmuan). Selanjutnya, penyusunan outline perlu dilakukan untuk mempercepat lahirnya sebuah tulisan dan memberikan gambaran umum untuk mempermudah dalam membuat tulisan. Dan kiranya, tulisan harus mengandung  “rasa” (sense) untuk fokus menjabarkan sebuah tulisan. Sehingga, tulisan tersebut tidak kering, dan dangkal agar tampil impresif dan enak dibaca.
Terlepas dari hal tersebut, ada tiga perkara yang sering dihadapi oleh penulis khususnya pada penulis pemula yaitu; memulai tulisan, mengisi konten tulisan, menutup tulisan. Untuk menghadapi perkara ini pada hakikatnya bisa terjawab ketika didukung dengan penguasaan 3i tersebut. Tetapi, Ketiga perkara tersebut menjadi hal yang paling rutin ditanyakan dalam setiap pelatihan dan diskusi kepenulisan. Pada dasarnya Pak Ade M. Wirasanjaya memaparkan untuk mengatasi persoalan tersebut, mengenai teknik membuka tulisan, mengisi konten tulisan dan menutup sebuah tulisan. Namun, dalam pemaparan dalam tulisan ini kurang memungkinkan karena mempertimbangkan kerugian pembaca. Sebab, pembaca tidak merasa rugi ketika “penulis”menjelaskan secara rigit dalam tulisan ini. Semoga di lain waktu bisa menyempatkan waktunya untuk hadir di diskusi yang lain.

Epigon dan Plagiat
Unsur–unsur di atas merupakan unsur teknis yang memengaruhi sebuah tulisan. Namun, ada hal non-teknis yang tidak kalah penting dalam memengaruhi sebuah tulisan yaitu; pertama, gaya penulisan turut menentukan dalam tulisan karena gaya tulisan mencerminkan karakter penulis. Gaya penulisan menjadi faktor penarik bagi pembaca. Sebab, gaya penulisan menjadi daya tarik tersendiri dan mempengaruhi orisinalitas karya penulisnya misalnya Ignas Kleden, Yudi latief, dan Goenawan Mohammad. Tetapi, bagi penulis pemula disarankan untuk meniru gaya penulisan sesuai dengan penulis yang diidolakan. Model seperti ini  dinamakan epigon menurut Ade M. Wirasanjaya.  Epigon sangat berbeda dengan plagiat karena plagiat meniru atau mengambil isi tulisan tanpa mencantumkan penulisnya. Sementara, epigon adalah meniru gaya penulisan atau model untuk menyampaikan gagasan seorang penulis.
Kedua, komunitas. Sebaiknya seorang penulis mempunyai komunitas untuk mengasah ketajaman penanya seperti di KBM. Komunitas bermanfaat untuk mengapresiasi karya seseorang. Selain itu, komunitas menjadi tempat yang baik untuk mendapatkan pembaca dan memberikan masukan terhadap tulisan yang telah dibuat. Penulisan yang baik harus terbuka terhadap kritikan untuk mengembangkan skill penulisan. Dengan berbagai kritikan dan masukan bagi penulis sekiranya akan mengurangi kegagalan dalam menulis. Tentunya, harus didukung dengan komunitas. Dalam komunitas khususnya di KBM, para penulis akan melakukan otokritik terhadap semua tulisan yang di bawah ke KBM menyangkut pengaruh bahasa lisan ke tulisan, diskusi mengenai isi atau konten tulisan, menjaga stamina, ritme, dan spirit penulis dengan agenda yang rutin. Di KBM para penulis pemula terus didorong mengirim tulisannya di media dan gambaran selera redaksi setiap media.
Bagi penulis, KBM adalah pelipur lara bagi yang berduka dalam penulisan. Sebab, KBM akan senantiasa membimbing para penulis-penulis pemula untuk eksis dengan karyanya. Sebagaimana, pak Ade Ma’aruf Wirasanjaya menjadi pelipur lara bagi peserta diskusi yang menanti beberapa jam. sebab, materi yang disampaikan setara dengan penantian yang panjang itu.
Keterlambatan Ade Ma’aruf Wirasanjaya, yang sedang menada hujan adalah ikhtiar menerima hidayah dan mempersiapkan anugerah dari sang Kuasa. Hujan adalah anugerah dan hidayah tidak bisa ditolak. Tapi, harus disyukuri sebagai nikmat Tuhan. Hujan selalu menumbuhkan benih yang tenggelam di bawah tanah. Dengan hujan seluruh benih menguncup membusur langit. Hujan ibarat ilmu yang dimiliki oleh pak Ade Ma’aruf Wirasanjaya, untuk mengguyur kemarau yang sedang berkepanjangan. Ilmu yang ditadah kini menebar ke peserta diskusi, semoga bakat yang terpendam akan menguncup dan lahir sebagai harapan bangsa. Selamat hari jadi KBM, yang selalu menada Hujan di Bulan Desember satu komunitas, satu buku untuk bangsa.

Yogyakarta, 16 Desember 2015
Sampean




Minggu, 01 November 2015

Satu Tahun Jokowi-JK; Merawat Janji dan Harapan Publik



Satu Tahun Jokowi-JK; Merawat Janji dan Harapan Publik
                                                                  Ahmad Sahide
                                                                             
            20 Oktober bulan ini, Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) telah resmi memimpin bangsa dan negara Indonesia selama setahun. Selama kurun waktu itulah pasangan pemimpin itu berusaha keras menepati janji-janjinya dalam kampanye dulu. Jokowi-JK dikawal masuk istana dengan harapan publik yang memuncak. Semua itu terlihat dari banyaknya pesta rakyat di daerah-daerah pada hari pelantikan Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
            Sambutan publik dalam pelantikan Jokowi-JK seolah mengingatkan kita pada pelantikan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, pada bulan Januari 2009, juga jatuh pada tanggal 20. Obama disambut oleh dunia seolah sebagai ‘nabi yang lahir pada abad ini’ untuk menciptakan perdamaian dunia. Di Indonesia, ada sosok Jokowi yang dilihat sebagai ‘Obama’ milik orang Indonesia. ‘Nabi’ yang lahir dan diutus untuk menciptakan tatanan politik yang sehat dan punya nurani. Pertanyaannya, dapatkah Jokowi-JK merawat janji dan harapan publik yang mengantarkannya ke istana setelah setahun kepemimpinannya?

Antara Obama dan Jokowi
            Menarik untuk memotret satu tahun kepemimpinan Jokowi dengan membandingkannya dengan sosok Obama. Meskipun dengan catatan bahwa Obama, Presiden ke-44 Amerika Serikat, mempunyai gaung yang luas dan besar di dunia internasional sebab Obama menjadi orang nomor satu di negara Adi Daya. Yang pasti, Obama dan Jokowi adalah pemimpin dengan beberapa kesamaan. Pertama, kedua pemimpin berasal dari kaum pinggiran. Di Amerika, sejak dulu, telah tertanam di benak publik bahwa untuk menjadi Presiden Negeri Paman Sam tersebut haruslah dari kulit putih. Ini sudah menjadi ‘undang-undang’ yang tidak tertulis dalam kultur politik Amerika Serikat. Dan Obama adalah Presiden Amerika pertama yang berasal dari kulit hitam yang tidak memiliki trah politik garis kepemimpinan di negara berpengaruh tersebut.  Obama berhasil menyingkirkan tokoh-tokoh politik senior yang mengakar kuat dalam partai dan masyarakat Amerika. Di tubuh partai Demokrat, Obama mengalahkan Hillary Clinton, mantan Ibu Negara, dalam konvensi partai tersebut. Selanjutnya Obama mengalahkan John McCain, politisi kawakan dari Partai Republik, dalam pemilihan presiden pada 2008 silam.
            Fenomena yang hampir sama dialami oleh Jokowi. Jokowi dilihat sebagai orang pinggiran. Tokoh yang lahir pascareformasi serta tidak mempunyai garis kepemimpinan di negeri ini. Berbeda halnya dengan Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri, dan Susilo Bambang Yudoyono. Selain itu, dalam kultur politik kita, sebelum kemunculan Jokowi, untuk menjadi seorang presiden harus memegang kendali partai politik (Ketua Umum atau Ketua Dewan Pembina). Oleh karena itu, kemenangan Jokowi pada 9 Juli tahun lalu (2014) mendobrak tatanan politik kita yang masih berbau feudal tersebut.
            Jika di Amerika (dulu) untuk menjadi seorang presiden, haruslah dari kulit putih sementara di Indonesia, untuk menjadi presiden harus dari kalangan elite dan pemimpin partai politik. Obama dan Jokowi muncul untuk mendobrak tatanan politik tersebut. Tetapi keduanya juga diperhadapkan dengan tantangan.
            Kedua, Obama dan Jokowi sama-sama disambut hangat oleh masyarakatnya. Obama bahkan oleh dunia, terutama untuk menyelesaikan konflik Arab-Israel. Keduanya dipandang sebagai sosok ‘pahlawan dan nabi’ untuk menata kehidupan yang lebih baik. Di pundak kedua pemimpin itu, ada ekspektasi publik yang sangat besar dalam mengawali kepemimpinannya. Hal itu terlihat dari pawai dan arak-arakan masyarakat pada hari pelantikan mereka masing-masing yang tidak pernah kita jumpai dari pelantikan pemimpin-pemimpin dunia lainnya. Bahkan Obama dianugerahi Nobel Perdamaian setelah setahun kepemimpinannya. Dalam hal prestasi individu ini tentu kita tidak dapat membandingkan antara Obama dengan Jokowi. Tetapi keduanya disambut dengan hangat dan ekspektasi besar dalam mengawali kepemimpiannya.
            Ketiga, keduanya diperhadapkan dengan arus politik yang sudah lama mengakar kuat. Di Amerika, Obama harus menghadapi kekuatan politik kelompok Zionis Israel. Hal itu yang membuat Obama harus melakukan kompromi politik untuk tidak terjungkal dari kekuasaannya. Sebagaimana kita ketahui bersama di mana Obama berkali-kali menegaskan bahwa Amerika di bawah kepemimpinannya akan lebih bersahabat dengan dunia Islam, dan terutama Timur Tengah yang sedang membara. Sebaliknya, Obama, pada awal-awal kepemimpinannya, dianggap kurang bersahabat dengan kelompok Yahudi dan Israel. Hal itu terlihat ketika Obama menolak bertemu dengan Perdana Menteri Israel benjamin Netanyahu awal bulan Juni 2010 karena Insiden penyerbuan pasukan komando Israel atas konvoi kapal pengangkut bantuan kemanusiaan ke jalur Gaza (Kompas, 2/6/10).
            Penolakan itu tentu menjadi pukulan memalukan bagi PM Netanyahu dan Israel. dan kemenangan Partai Republik          dalam pemilu sela 2010 dikaitkan dengan sikap Obama yang kurang bersahabat dengan kelompok Zionis Israel. Obama terpaksa harus mengambil langkah kompromi untuk mengamankan kekuasaannya. Kini, periode kedua kepemimpinan Obama di negeri Paman Sam tersebut akan segera berakhir. Namun Obama juga belum mampu mengabadikan dirinya dengan menciptakan perdamaian dunia, terutama menyelesaikan konflik Arab-Israel. Penghargan tertingi dan prestisius yang diberikan padanya tidaklah dapat menolongnya untuk menciptakan perdamaian. Bahkan konflik di Timur Tengah semakin akut.
            Lalu bagaimana dengan Presiden Jokowi? Akankah ia mengikuti jejak Obama? Gagal memenuhi ekspektasi publik yang diamanahkan padanya. Jika, di Amerika, Obama diperhadapkan dengan kekuatan lobi politik Yahudi, di Indonesia berbeda. Jokowi diperhadapkan dengan kekuatan arus politik yang mengakar kuat pada patronase partai politik. Bahkan Jokowi harus berhadapan dengan partai pengsusungnya sendiri, PDI P, pada awal-awal kekuasaannya. Hal itu terlihat dari kasus Budi Gunawan yang gagal dilantik menjadi Kapolri. Dalam kasus ini, Jokowi seolah berhadapan dengan PDI P itu sendiri yang mengusulkan Budi Gunawan sebagai pemimpin tertinggi institusi kepolisian tersebut. Hal ini menimbulkan kegaduhan politik.
            Jokowi, dinilai oleh banyak pengamat, tidak memiliki kekuatan politik untuk menghadapi arus kekuatan politik parpol. Dalam bahasa Yasraf Amir Piliang diistilahkannya dengan Kekuasaan Tanpa Kuasa (Kompas, 7/09/2015).Jokowi lalu melakukan kompromi politik. Budi Gunawan memang gagal dilantik menjadi Kapolri, tetapi ia dijadikan sebagai orang nomor dua di institusi tersebut. Apapun hasilnya, sempat tercium oleh publik keretakan hubungan antara Presiden Jokowi dengan Megawati Soekarno Putri, Ketua Umum PDI P.  
            Puncaknya terlihat ketika Jokowi dan JK diundang dalam Kongres PDI P di Bali pada bulan April 2015. Dalam hajatan politik internal partai pemenang pemilu tersebut, Jokowi, sebagai kader partai yang juga adalah Kepala Negara, tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato politik. Hal ini kembali menimbulkan kehebohan politik sebab Megawati Soekarno Putri dianggap ‘tidak menghormati’ Jokowi sebagai orang nomor satu (symbol negara) di republik ini. Berbeda halnya ketika Jokowi menghadiri hajatan Partai Demokrat dan juga PAN. Jokowi dalam menghadiri undangan partai-partai yang tidak mengusungnya tersebut dalam pemilu 2014 lalu justru diperlakukan sangat terhormat.

Merawat Hubungan Jokowi-Megawati
            Tidak dapat dimungkiri bahwa hubungan Jokowi-Megawati, sebagai Ketua Umum PDI P, sangat menentukan suskses tidaknya Jokowi-JK memimpin negeri ini. Oleh karena itu, preseden buruk terjadinya perbedaan paham antara Jokowi dengan Megawati tidak boleh terulang lagi karena terbukti hal tersebut mengganggu jalannya pemerintahan Jokowi-JK dan juga menurunnya popularitas Jokowi tidak terlepas dari keretakan hubungan tersebut. Oleh karena itu, hubungan Jokowi-Megawati harus dirawat dengan baik demi kepentinganbangsa dan negara.            Megawati bertugas menjaga ideologi partai dan Jokowi bertugas mengeksekusi gagasan-gagasan ideologis partai dengan posisinya sebagai kepala negara.
            Para ‘pembisik’ Jokowi dan Megawati harus mewaspadai adanya pihak-pihak tertentu, tidak terkecuali di internal Partai Banteng tersebut, yang menghendaki retaknya hubungan Jokowi-Megawati dalam menghadapi pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 nantinya. Inilah yang harus menjadi catatan bagi PDI P dan Jokowi dalam satu tahun pemerintahan Jokowi-JK.
            Masih ada sisa waktu empat tahun bagi Jokowi-JK untuk memimpin negeri ini. Tentu belumlah terlambat untuk meraih kesuksesan dan juga mewujudkan janji-janjinya. Oleh karena itu, dalam satu tahun kepemimpinan Jokowi-JK ini, haruslah dijadikan sebagai momentum untuk berbenah bagi semua pihak, terutama bagi PDI P dan juga Jokowi-JK. Kesuksesan Jokowi-JK adalah kesuksesan PDI P perjuangan dalam posisinya sebagai partai pemenang pemilu yang juga partai pengusung utama duet Jokowi-JK. Sebaliknya, jika Jokowi-JK gagal dalam lima tahun kepemimpinannya, boleh jadi publik mengkambing-hitamkan PDI P sehingga dapat berdampak dengan kegagalan partai titisan Soekarno itu memertahankan kesusksesannya pada pemilihan umum 2014 lalu.
            Semoga Jokowi tidak mengikuti jejak Obama yang gagal mewujudkan ekspektasi besar publik hanya karena diperhadapkan dengan arus besar!
Ahmad Sahide
Kandidat Doktor Sekolah Pascasarjana, UGM
                        Dan Pegiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta